Nourishing People

Pemijahan dan pemeliharaan larva lele sangkuriang

Pemijahan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami dibak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.

Pemijahan alami dan semi alami menggunakan induk betina dan jantan dengan perbandingan 1:1 baik jumlah ataupun berat. Bila induk betina atau jantan lebih berat dibanding lawannya, dapat digunakan perbandingan jumlah 1:2 yang dilakukan secara bertahap. Misalnya, induk betina berat 2 kg/ekor dapat dipasangkan dengan 2 ekor induk jantan berat 1 kg/ekor. Pada saat pemijahan, dipasangkan induk betina dan jantan masing-masing 1 ekor. Setelah sekitar setengah telur keluar atau induk jantan sudah kelelahan dilakukan penggantian induk jantan dengan induk yang baru. Wadah pemijahan dapat berupa bak plastik atau dengan tembok dengan ukuran 2 x 1 m dengan ketinggian air 15-25 cm. Kakaban untuk meletakkan telur disimpan di dasar kolam.

Pemijahan buatan menggunakan induk betina dan jantan dengan perbandingan berat 3:0,7 (telur dari 3 kg induk betina dapat dibuahi dengna sperma dari jantan dengan berat 0,7 kg).

Pemijahan semi alami dan buatan dilakukan dengan melakukan penyuntikan terhadap induk betina menggunakan ekstrak pituitari/hipofisa atau hormon perangsang (misalnya ovaprim, ovatide, LHRH atau yang lainnya). Ekstrak hipofisa dapat berasal dari ikan lele atau ikan mas sebagai donor. Penyuntikan dengan ekstrak hipofisa dilakukan dengan dosis 1 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan lele) atau 2 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan mas). Penyuntikan menggunakan ovaprim atau ovatide dilakukan dengan dosis 0,2 ml/kg induk.


Penyuntikan dilakukan satu kali secara intra muscular yaitu pada bagian punggung ikan. Rentang waktu antara penyuntikan dengan ovulasi terlur 10-14 jam tergantung pada suhu inkubasi induk.

Prosedur pemijahan buatan meliputi:
  • ·        Pemeriksaan ovulasi telur pada induk betina,
  • ·         Pengambilan kantung sperma pada ikan jantan,
  • ·     Pengenceran sperma pada larutan fisiologis (NaCl 0,9 %) dengan perbandingan 1:50-100,
  • ·         Pengurutan induk betina untuk mengeluarkan telur,
  • ·  Pencampuran telur dan sperma secara merata untuk meningkatkan pembuahan (fertilisasi),
  • ·         Penebaran telur yang sudah terbuahi secara merata pada hapa penetasan.
Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk menjamin ketersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan kandungan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian aerasi.

Telur lele Sangkuriang menetas 30-36 jam setelah pembuahan pada suhu 22-25  oC. Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan di serap sebagai sumber makanan bagi larva sehinga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva umur 4-5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang dan berwarna hitam.

Oleh Sunarma, A. 2004. Peningkatan Produktifitas Usaha Lele Sangkuriang (Clarias sp.). ibid.
  • Pemijahan dan pemeliharaan larva lele sangkuriang
  • Winarno Anoraga
  • 1 November 2011
  • 2 komentar:
 

2 comments:

  1. pemijahans ecara intensif sungguh tidak berperikehewanan.

    BalasHapus
  2. @lele suramadu: bener gan, kasihan banget lelenya

    BalasHapus