Nourishing People

Buah Mengkudu, Alternatif pengendali sifat kanibalisme pada ikan lele

Sifat kanibalisme pada ikan lele secara singkat sudah kita bahas pada postingan sebelumnya, sekarang kita akan belajar bagaimana mengetahui cara mengendalikan sifat kanibalisme tersebut dengan metode hormonal berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor, yaitu Ikbal Hadi, Asep El Qusairi, Ruly Ratannanda, M. Hasyim Al Abror dan Rezy Hidayat, dengan judul penelitian “Efektivitas Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu Morinda cirtifolia L. Melalui Pakan Alami Terhadap Sifat Kanibalisme Benih Ikan Lele Clarias sp. pada Sistem Budidaya Intensif”.

Menurut mereka, upaya yang dilakukan selama ini dalam mengendalikan sifat kanibalisme adalah dengan melakukan penyortiran (grading) ukuran benih secara teratur atau penjarangan kepadatan pemeliharaan benih. Namun, upaya seperti ini dinilai masih kurang efisien karena mengurangi kepadatan pemeliharaan dalam kapasitas produksi yang tersedia dan juga memerlukan tambahan sarana produksi untuk menampung benih hasil sortiran atau penjarangan. Atas dasar itulah mereka melakukan inovasi dengan melakukan metode pendekatan hormonal.“

Hormon yang berpengaruh dalam hal ini adalah hormon serotonin. Riset yang dilakukan oleh Hseu J. R pada juvenil ikan kerapu membuktikan bahwa kanibalisme dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi hormon serotonin pada otak. Peningkatan hormon serotonin ini juga diduga mampu mengurangi kecenderungan sifat agresif benih ikan lele untuk meng-kanibal. Konsentrasi hormon serotonin ini dapat dipicu oleh penambahan zat scopoletin yang salah satunya terkandung dalam buah mengkudu.”Tambah mereka.

Metode yang dilakukan adalah dengan cara bioenkapsulasi. Bioenkapsulasi dilakukan dengan merendam pakan alami yang diberikan pada larva dalam larutan mengkudu, dengan beberapa perlakuan konsentrasi larutan, selama 6 jam setiap harinya kemudian langsung diberikan kepada larva. Pakan alami yang digunakan sendiri adalah Daphnia sp., Artemia sp., dan Cacing Sutera yang diberikan sesuai umur larva. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang berbeda nyata dalam perlakuan yang diberikan dengan kontrol (penyortiran/grading). Tingkat kelangsungan hidup larva atau yang lebih sering disebut Survival Rate (SR) tertinggi hanya 8.67 % yang dicapai pada perlakuan 15 ppt yang berarti tingkat mortalitas larva masih sangat tinggi, sedangkan dibandingkan dengan perlakuan kontrol atau peyortiran biasa diperoleh SR 5.58 %. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil tersebut selain tingkat kanibalisme yakni kualitas air, kekurangan pakan, stress lingkungan, dan serangan penyakit, yang semuanya hanya bisa diduga karena penelitian kearah itu tidak dilakukan.
  • Buah Mengkudu, Alternatif pengendali sifat kanibalisme pada ikan lele
  • Winarno Anoraga
  • 3 Maret 2012
  • Tidak ada komentar:
 

0 comments:

Poskan Komentar