Nourishing People

Sejarah Singkat Asal Usul Lele Sangkuriang


Pada awalnya, lele belum memiliki varietas yang dapat diunggulkan sehingga usaha budidaya ini belum dilirik oleh masyarakat. Saat itu, lele yang dibudidayakan hanya sebatas lele lokal yang kurang menghasilkan. Namun, setelah masuknya jenis lele dumbo yang masuk Indonesia pada tahun 1985 usaha budidaya ikan lele semakin meningkat dan banyak digemari. Saat pertama kali dibudidayakan, lele dumbo membuat peternak di tanah air bersukacita lantaran ukuran konsumsinya mencapai 10-15 ekor/kg, bahkan ukuran konsumsi ini hanya didapat dalam waktu budidaya selam 70 hari.

Namun demikian, perkembangan budidaya lele dumbo ini juga mengalami penurunan kualitas. Hasl yang diperoleh masyarakat terkadang tidak sesuai yang diinginkan. Ukuran konsumsi 10-15 ekor/kg yang awalnya dapat diperoleh dalam waktu 70 hari, belakangan untuk mencapai ukuran serupa waktunya molor hingga 100 hari. Penurunan kualitas ini lebih disebabkan karena kurang pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan induk yang baik. Perkawinan lele sekerabat (inbreeding) dan seleksi induk yang slaah atau berkualitas rendah merupakan salah satu akibat dari penurunan kualitas lele dumbo yang dihasilkan. Perkawinan sekerabat atau segenerasi menyebabkan  pertumbuhan lele menjadi lambat. Petani pun mulai mengeluhkan penurunan kualitas ini. Penurunan kualitas lele dumbo ini dapat dilihat berdasarkan: pematangan gonad, derajat yang diperlukan untuk penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit, dan nilai FCR (Feeding Convertion Rate).

Seiring perkembangan dunia perikanan kini muncul varietas baru yang diberi nama lele sangkuriang. Pada awalnya pengembangan lele sangkuriang ini dilakukan oleh BBPBAT Sukabumi beberapat tahun silam. BBPBAT Sukabumi melakukan upaya perbaikan genetik melalui cara silang balik atau backcross breeding antara induk lele dumbo betina generasi kedua (F2) dengan induk lele dumbo jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di BBPBAT Sukabumi dari keturunan kedua lele dumbo yang dibawa ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan induk yang telah ada di BBPBAT Sukabumi. Indukan betina F2 dipilih yang bobotnya 0,7-1 kg dan memiliki panjang 25-30 cm. Sedangkan, jantan F6 dipilih yang berbobot 0,5-0,75 kg dengna panjang 30-35 cm. Lele jantan haril perkawinan F2 dan F6 (F2-6) itu kemudian diseleksi dan dikawinkan kembali dnegan induknya yaitu F2. Perlu diketahui karena panjangnya proses perkawinan ini, sangkuriang baru diperoleh setelah 4 tahun penyilangan.

Dalam legenda Jawa Barat, yakni terjadinya Gunung Tangkuban Perahu niat Sangkuriang mempersunting Dayang Sumbi tidak diperbolehkan. Kandasnya niat Sangkuriang karena ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya. Dalam masyarakat hal ini tabu untuk dijalankan. Namun bagi lele dumbo hal ini perlu dilakukan. Seperti yang telah dijelaskan di depan, perkawinan silang tersebut dilakukan supaya kualitas, fekunditas, produktifitas, dan rasio pakan keturunan lele dumbo ini kembali moncer. Hasil perkawinan silang inilah yang disebut sebagai lele sangkuriang. Lele sangkuriang ini telah dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi melalui Kepmen No. KEP.26/MEN/2004 pada tanggal 21 Juli 2004.

Dari hasil uji coba dan penelitian tebukti lele jenis sangkuriang lebih unggul dibandingkan dengan jenis lele dumbo biasa. Oleh sebab itu, sangkuriang menjadi sandaran baru bagi petani lele setelah penurunan kualitas lele dumbo.

Sumber:
  1. Muktiani,”Budidaya Lele Sangkuriang dengan Kolam Terpal”,Yogyakarta: Pustaka Paru Press, 2011.
  2. Mahyudin, Kholish,”Panduan Lengkap Agribisnis Lele”,Jakarta: Penebar Swadaya, 2011.

 

0 comments:

Poskan Komentar