Nourishing People

Belimbing Wuluh Menghambat Bakteri Aeromonas salmonicida

Pada tahun 1890, Emmerich dan Weibel pertama kali menemukan A. salmonicida pada ikan trout di Jerman. Strain dari A. salmonicida dapat menimbulkan gejala furunculosis (Holt et al, 1994). Wabah A. salmonicida pernah terjadi pada bulan Oktober 1980, terutama di daerah Jawa Barat. Kerugian yang ditimbulkannya kira-kira mencapai 4 milyar rupiah (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007). Serangan bakteri ini baru terlihat apabila ketahanan tubuh ikan menurun akibat stres yang disebabkan oleh penurunan kualitas air, kekurangan pakan atau penanganan yang kurang tepat (Afrianto dan Liviawaty, 1992). Aeromonas salmonicida dapat dijumpai di lingkungan air tawar maupun air laut. Penularan bakteri Aeromonas dapat berlangsung melalui air, kontak badan, kontak dengan peralatan yang telah tercemar atau karena pemindahan ikan yang terserang Aeromonas dari satu tempat ke tempat lain (Afrianto dan Liviawaty, 1992). 

Saat ini penyakit furunculosis yang disebabkan bakteri A. salmonicida dilakukan pengobatan dengan menggunakan antibiotik. Menurut Cipriano dan Bullock (2001), antibiotik yang digunakan untuk A. salmonicida adalah ampicillin. Penggunaan antibiotik ternyata dapat menimbulkan efek samping bagi patogen itu sendiri maupun terhadap ikan yang dipelihara. Pemberian antibiotik secara terus menerus dapat menyebabkan organisme patogen menjadi resisten, sehingga penggunaan antimikroba menjadi tidak efektif. Selain itu, residu dari antibiotik tersebut dapat mencemari lingkungan perairan yang mengakibatkan kualitas air menjadi turun (Retnawati, 2008). 

Adalah Proyogo, Boedi Setya Rahardja dan Rena Wilis Putri, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, telah melakukan sebuah penelitian ilmiah dengan judul “Uji Potensi Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Aeromonas salmonicida smithia Secara In Vitro”. Penelitian dilakukan di laboratorium Bakteriologi Balai Karantina Ikan, Sidoarjo dan laboratorium Human Genetic Institute of Tropical Disease Centre Universitas Airlangga, Surabaya, pada bulan Februari 2011. 

Bahan penelitian yang digunakan adalah bakteri A. salmonicida smithia yang diperoleh dari Balai Karantina Ikan, Sidoarjo, buah belimbing wuluh, Tripticase Soy Agar (TSA), Mc Farland nomor 0,5, aquades, saringan, kertas saring, kertas label, aluminium foil dan paper disk. Peralatan penelitian yang digunakan meliputi blender, tabung erlenmeyer, cawan petri, mikropipet, rak, tabung reaksi, corong, jarum ose, freeze dryer, laminar flow, autoclave, pembakar bunsen, penggaris, botol kaca dan vortex. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. 

Prosedur kerja dalam penelitian ini pertama membuat simplisia buah belimbing wuluh. Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dicuci kemudian dipotong kecil-kecil untuk selanjutnya di blender sampai benar-benar halus. Hasil jus kemudian disaring dengan menggunakan saringan, selanjutnya disaring kembali menggunakan kertas saring dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer (Adriana, 1992 ; Adriani, 1992). Hasil dari jus buah belimbing wuluh kemudian diuapkan dengan alat freeze dryer selama 48 jam untuk mendapatkan simplisia dari buah belimbing wuluh (Zalizar, 2010 ; Trilaksani dkk., 2006), selanjutnya menyiapkan larutan sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan berbagai konsentrasi. Metode yang digunakan adalah metode difusi dengan berbagai konsentrasi pengenceran secara berseri. Larutan sari buah belimbing yang digunakan dalam penelitian adalah 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml, 0,125 gr/ml, dan 0,0625 gr/ml. 

Penelitian ini menggunakan metode difusi dengan paper disk. Menurut Wibowo (2002), cara mengukur zona hambat dilakukan dengan mengukur secara garis lurus tengah zona hambat atau diukur dari tepi kanan sampai tepi kiri zona hambat yang terbentuk. 

Hasil penelitian ini dapat dilihat dari besar kecil zona hambat yang terbentuk di sekeliling paper disk. Sari buah belimbing wuluh dinyatakan sangat peka, cukup peka dan tidak peka terhadap bakteri A. salmonicida smithia disesuaikan dengan standar antibiotik seperti ampicillin. Menurut Rao (1996), ampicillin dinyatakan sangat peka dengan ukuran zona hambat 17 mm, cukup peka dengan ukuran zona hambat 14 – 16 mm dan kurang peka dengan ukuran zona hambat 13 mm. 

Pada ulangan 1, 2 dan 3 dapat diamati bahwa A. salmonicida smithia cukup peka terhadap sari buah belimbing wuluh pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dinyatakan bahwa pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml, sari buah belimbing wuluh dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia, karena zona hambat yang terbentuk sesuai dengan standar umum antibiotik ampicillin. 

Hasil besar zona hambat pada konsentrasi 0,125 gr/ml pada ulangan 1, 2 dan 3 total rata-rata menunjukkan diameter yang dihasilkan 14 mm, sehingga pada konsentrasi tersebut sari buah belimbing wuluh dinyatakan sudah cukup peka dalam menghambat pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia secara in vitro. 

Pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml diameter yang dihasilkan 14 mm yang sesuai dengan standar umum antibiotik seperti ampicillin. Hal ini disebabkan pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml mengandung zat antibakteri yang lebih banyak dibandingkan pada konsentrasi 0,0625 gr/ml, karena besar zona hambat yang dihasilkan 13 mm. Boyd (1995) menyatakan bahwa semakin kecil konsentrasi maka kemampuan zat antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri juga semakin kecil. 

Tanaman belimbing wuluh telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Adapun kandungan bahan kimia alami dari buah belimbing wuluh yang diketahui mempunyai efek antibakteri yaitu, flavonoid dan fenol (Hembing, 2008). Senyawa aktif flavonoid di dalam sari buah belimbing wuluh memiliki kemampuan membentuk kompleks dengan protein sel bakteri melalui ikatan hidrogen. Struktur dinding sel dan membran sitoplasma bakteri yang mengandung protein, menjadi tidak stabil karena struktur protein sel bakteri menjadi rusak karena adanya ikatan hidrogen dengan flavonoid, sehingga protein sel bakteri menjadi kehilangan aktivitas biologinya, akibatnya fungsi permeabilitas sel bakteri terganggu dan sel bakteri akan mengalami lisis yang berakibat pada kematian sel bakteri (Harborne, 1987). 

Pertumbuhan sel bakteri dapat terganggu oleh komponen fenol dari sari buah belimbing wuluh, yaitu dengan cara mendenaturasi protein sel bakteri. Akibat terdenaturasinya protein sel bakteri, maka semua aktivitas metabolisme sel bakteri terhenti, sebab semua aktivitas metabolisme sel bakteri dikatalisis oleh enzim yang merupakan protein (Lawrence dan Block, 1968). Menurut Marcus et al (1991), fenol juga dapat menyebabkan kerusakan dinding sel. Fenol berikatan dengan protein melalui ikatan hidrogen, sehingga mengakibatkan struktur protein menjadi rusak. Sebagian besar struktur dinding sel dan membran sitoplasma bakteri mengandung protein dan lemak. 

Berdasarkan hasil penelitian yang di dapat terjadi perbedaan dalam hal pertumbuhan bakteri, karena adanya perbedaan konsentrasi. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Pelczar dan Chan (1988), bahwa cara kerja zat antibakteri dalam menghambat bakteri dipengaruhi oleh konsentrasi zat antibakteri tersebut. 

Sari buah belimbing wuluh diduga efektif bila digunakan sebagai obat, karena pada konsentrasi kecil mampu untuk menghambat bakteri A. salmonicida smithia secara in vitro. Ernst (1991) menyatakan, terapi obat yang bermanfaat adalah dengan pemberian konsentrasi yang cukup dan tidak berlebihan sebagai syarat utama. Pada penelitian ini, pemberian konsentrasi 0,125 gr/ml sudah mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri. 

Sumber: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No. 2, November 2011
  • Belimbing Wuluh Menghambat Bakteri Aeromonas salmonicida
  • Winarno Anoraga
  • 21 April 2012
  • Tidak ada komentar:
 

0 comments:

Poskan Komentar