Nourishing People

Memilih Jenis Usaha Dari Budidaya Lele

Memilih cabang usaha tidak boleh sembarangan. Minimal ada dua segi yang harus dipertimbangkan, yaitu segi teknis dan segi ekonomis. Namun memilih ikan lele sebagai bisnis tidak salah. Karena bisnis ini memiliki berbagai kelebihan dibandingkan bisnis lain. Bukan hanya itu, dalam bisnis lele ada banyak tahapan yang bisa dipilih. Pemilihannya tergantung dari luas lahan, minat dan modal yang dimiliki. Berikut beberapa tahapan bisnis lele yang bisa dipilih: 
  1. Produsen benih/bibit lele. Usaha pembenihan ikan lele saat ini menjadi primadona yang banyak diminati para pengusaha, hal ini disebabkan oleh siklus produksi yang lebih singkat. Untuk menjadi pembenih ikan lele membutuhkan sarana berupa kolam pemeliharaan induk, kolam pemijahan, kolam pendederan/pemeliharaan benih. Harga jualnya dihitung per ekor. Benih/bibit lele bisa dijual kepada para produsen lele konsumsi.
  2. Produsen lele konsumsi. Menjadi produsen lele konsumsi merupakan tahapan yang paling banyak dipilih oleh calon pebisnis dibandingkan tahapan lainnya, karena dianggap tahapan yang paling mudah dan beresiko kecil. Untuk memproduksi lele konsumsi dibutuhkan waktu 2,5 bulan dari benih ukuran 7-8 cm. Hasilnya bisa dijual kepada konsumen atau pengepul. Harga penjualan didasarkan pada berat, misalnya dalam setiap kilogram, setiap kwintal atau setiap ton, dengan harga antara Rp10.000-Rp14.000/kg. Untuk memproduksi lele konsumsi diperlukan fasilitas berupa kolam pembesaran, sebaiknya dengan ukuran minimal 10 meter persegi. 
  3. Produsen induk lele. Untuk memproduksi induk lele dibutuhkan waktu antara 4-6 bulan dari lele konsumsi. Induk yang siap jual berumur minimal 1 tahun. Hasilnya bisa dijual kepada para produsen benih. Harga penjualan dilakukan dengan sistem per paket. Satu paket terdiri dari 5 ekor jantan dan 10 ekor betina. Proses produksi induk saat ini sudah ditetapkan melalui beberapa protokol produksi oleh pemerintah. Meskipun usaha penjualan calon induk dan induk lele cukup menjanjikan tetapi sebaiknya produksi induk lele tidak dilakukan dengan cara sembarangan (ingat penurunan kualitas lele dumbo). Kami sangat menganjurkan agar proses produksi induk lele hanya dilakukan oleh instansi resmi pemerintah atau swasta yang telah mendapat sertifikat atau supervisi dari Pemerintah, misalnya BBPBAT Sukabumi dan lainnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjaga kualitas induk lele itu sendiri. 
  4. Pembuat dan penjual masakan lele. Para penjual masakan lele dapat ditemui diberbagai sudut kota, bisa warung tegal, pecel lele, ataupun warung sejenis yang menjual menu masakan dari bahan ikan lele. Harga penjualan biasanya berdasarkan pada jumlah porsi, meskipun ada sebagian yang menjual per ekor. Untuk menekuni usaha ini sebenarnya sama saja dengan jenis usaha kuliner lainnya yang sangat tergantung dengan rasa atau selera konsumen, pemilihan tempat, target pasar dan permodalan. 
  5. Penjual bahan olahan lele. Tidak seperti pembuat dan penjual masakan lele, untuk mengubah lele menjadi bentuk olahan membutuhkan waktu yang lebih lama dan memerlukan keahlian khusus. Hasil olahan dapat disajikan dlaam berbagai bentuk, diantaranya lele asap, sosis, abon lele dan bentuk lainnya. Olahan juga bisa dijual langsung kepada konsumen dengan penjualan berdasarkan berat. Sebagai contoh anda bisa membaca di sini menembus eksport dengan abon lele
Disadur dari Warta Pasar Ikan Edisi Oktober 2010
 

0 comments:

Poskan Komentar