Nourishing People

Pengembangan Kawasan Perbenihan di Indonesia


Pengembangan kawasan perbenihan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2007 yang diawali di 7 (tujuh) Propinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Jambi dan Kalimantan Selatan. Komoditas prioritas yang dikembangkan mencakup udang, nila, lele dan patin dengan alokasi wilayah pengembangan sebagai berikut:

No
Propinsi
Kabupaten
Komoditas yang dikembangkan
1.
Jawa Tengah
Jepara
Udang Vaname
2.
Jawa Timur
Pacitan
Lele
Kediri
Lele
Situbondo
Udang Vaname
3.
Bali
Gianyar
Nila
Buleleng
Udang Vaname
4.
Lampung
Lampung Selatan
Nila
5.
Sumatera Selatan
Musi Rawas
Nila
6.
Jambi
Batanghari
Patin
7.
Kalimantan Selatan
Banjar
Nila




Pengembangan kawasan perbenihan merupakan upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi para pembudidaya dalam memperoleh benih yang memenuhi persyaratan 7 (tujuh) tepat yaitu tepat jenis, jumlah, kualitas, waktu, tempat, ukuran, dan harga, mengingat benih menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pembudidayaan.

Melalui pengembangan kawasan perbenihan, unit perbenihan skala kecil yang pada tahun 2006 jumlahnya diperkirakan mencapai 28.250 UPR dan 1.234 HSRT serta tersebar di hampir seluruh wilayah di Indonesia, didorong untuk dapat menghasilkan benih bermutu secara berkelanjutan.

Pengembangan kawasan perbenihan yang didukung melalui Dana Penguatan Modal bagi pembenih skala kecil dapat dilakukan dengan menerapkan model PL-Center, Benih-Center, Telur/Nauplii-Center, Unit Pembenihan Mandiri atau Pusat Induk Mandiri, disesuaikan dengan kondisi usaha pembenihan yang telah berkembang dan potensi pengembangan perbenihan di kawasan yang bersangkutan.

Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
 

0 comments:

Poskan Komentar