Nourishing People

Segitiga Emas Budidaya Ikan Hias Jawa Timur

Jawa timur memang tidak salah jika disebut sebagai kiblatnya perikanan budidaya seluruh Indonesia. Bagaimana tidak, mulai dari budidaya laut, payau sampai dengan budidaya air tawarnya lengkap terdapat di sini. Banyak terdapat sentra budidaya yang terbentuk di provinsi paling timur di pulau Jawa ini. Bahkan Jawa Timur juga memiliki sentra budidaya ikan hias dengan komoditas yang khas setiap daerahnya. Maka tidak mengherankan bila di Jawa Timur ada daerah yang disebut sebagai segitiga emas budidaya ikan hias. Daerah mana sajakah itu?

1. Blitar
Blitar merupakan salah satu sentra produksi ikan hias khususnya ikan hias Koi. Koi yang berasal dari Blitar sudah diakui oleh para penggemar, pedagang dan pembudidaya ikan hias sebagai salah koi dengan kualitas terbaik karena memiliki warna dan corak yang sangat bagus. Sehingga setiap menyebut ikan hias Koi pasti mengarah ke Blitar sebagai salah satu produksi ikan koi berkualitas. Oleh karenanya harga ikan koi asal Blitar lebih mahal dibandingkan dari daerah lain.

Berkualitasnya ikan koi Blitar juga dibuktikan dengan seringnya Blitar meraih juara dalam event perlombaan (kontes) ikan Koi baik yang diselenggarakan event ragional maupun nasional. Oleh sebab itu pengembangan di masa datang harus dlakukan secara memadai untuk memberikan jaminan terhadap kualitas ikan hias. Maka pada tahun 2005 pemerintah daerah Kabupaten Blitar melakukan pembangunan Sub Raiser ikan hias yang terletak di kawasan wisata candi Penataran.

Pada tahun 2011 tercatat ada sebanyak 375 Rumah Tangga Perikanan Budidaya Ikan Hias di Blitar dengan jumlah pembudidayanya mencapai 1.560 orang. Produksi ikan hias Blitar pada tahun itu sebanyak 167.077.700 ekor dengan nilai sebesar Rp. 818.387.496.000. Dari Total produksi ikan hias Blitar tersebut sebagian besar adalah ikan koi yakni sebesar 96,20 persen atau 160.725.500 ekor ikan koi dengan nilai Rp. 803.627.500.000. Blitar sendiri pada tahun 2011 menargetkan produksi ikan koi sebesar 160.452.125 ekor dan di tahun 2012 ini Blitar menargetkan produksi ikan koi sebesar 176.497.745 ekor. Jenis ikan koi yang banyak dipelihara oleh pembudidaya ikan hias Blitar adalah koi jenis Kohaku dan Showa.

Pemasaran ikan hias koi dari daerah ini telah merambah pasar internasional yaitu Singapura, Jerman, Belanda dan Amerika. Di Indonesia sendiri, distribusi pemasaran ikan koi dari Blitar selain sekitar Blitar dan Jawa Timur meliputi Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Solo, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan Bali. Harga ikan hias koi sendiri bervariasi bergantung pada ukuran dan kualitas. Biasanya ukuran +/- 10 cm berharga Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 1.000.000.

Lokasi budidaya ikan hias koi terletak di Desa Tawangsari dan Karangrejo (Garum), Desa Penataran, Kemloko dan Krenceng (Nglegok), Desa Sumber dan Jeding (Sanan Kulon), Desa Jabung (Talun), Desa Tlogo (Kanigoro), Desa Jati Tengah (Selopuro) dan Desa Gandusari (Gandusari). Sentra budidaya ikan koi sendiri tepatnya terletak di kecamatan Nglegok. Ada tiga desa yang menjadi pusatnya budidaya ikan koi di kecamatan Nglegok yakni Desa Krenceng, Desa Penataran, dan Desa Kemloko. Memang daerah di ketiga desa tersebut sangat cocok untuk pengembangbiakkan ikan hias jenis koi. Air selalu mengalir dari mata air yang berada tepat di lereng Gunung Kelud, sementara struktur tanah sangat mendukung bagi perkembangan ikan koi. Hampir seluruh penduduk memiliki kolam pemijahan ikan koi.

2. Tulungagung
Tulungagung ditetapkan sebagai kawasan segitiga emas budidaya ikan hias sebagaimana yang tertuang pada SK BUPATI Tulungagung Nomor: 188.45/79/031/2011 tanggal 25 Februari 2011. Melalui SK itu pula ditetapkan bahwa ikan mas koki sebagai komoditas unggulan perikanan budidaya untuk jenis ikan hias. Komoditi ikan hias mas koki Tulungagung telah mampu menguasai pasar dalam negeri dan manca Negara. Pada tahun 2011 kabupaten Tulungagung mampu mengekspor 55,12 juta ekor per tahun dengan nilai produksi Rp. 96,5 Milyar.

Komoditas unggulan ikan hias air tawar khususnya Maskoki tersentra di tiga Kecamatan Sumbergempol, Kedungwaru, Boyolangu dan yang lain tersebar di 12 kecamatan. Total produksi ikan hias Tulungagung pada tahun 2011 mencapai 56.922.310 ekor dengan produksi ikan mas kokinya sebesar 95,55 persen adalah ikan mas koki atau sebesar 54.386.720 ekor. Dengan produksi mas koki sebesar tersebut ikan mas koki Tulungagung memiliki share terhadap total produksi mas koki provinsi sebesar 81,19 persen. Saat ini tercatat sebanyak 1.265 Rumah Tangga Perikanan ikan hias di Tulungagung dengan jumlah pembudidaya sebanyak 2.540 orang.

Berdasarkan hasil penelitian oleh Widya Ambarwati, 2007, yang dilakukan di Kecamatan Sumber Gempol, Para pembudidaya selain menjual hasil budidayanya ke pedagang pengumpul, hasil budidayanya juga dijual langsung pada pedagang pengecer. Berdasarkan hasil perhitungan estimasi kontribusi penawaran ikan hias maskoki, masih terdapat potensi yang cukup cerah untuk usaha di sektor ini. Pada tahun 2007 Kecamatan Sumbergempol memiliki kontribusi penawaran ikan hias sebesar 31,27% yang artinya masih terbuka kesempatan pengembangan usaha yang cukup lebar. Market sahare yang di dapat sebesar 280.771,26 ton dan peluang pasar sebesar 21.458,17 ton.

Pemasaran ikan mas koki tersebar Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Bali dan sebagian Sumatera dan Sulawesi. Bahkan pasar ikan mas koki dari Tulungagung juga mencapai pasar internasional. Ikan hias sendiri menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Tulungagung telah menjalin hubungan kerjasama dengan eksportir dari Bali dan Jakarta. Ikan Mas Koki biasa berharga dalam kisaran Rp. 2.000 sampai Rp. 10.000 tetapi Ikan Mas Koki yang berhasil menjadi juara dalam sebuah kontes akan memiliki harga yang bervariasi dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah per ekor.

Keberhasilan Tulungagung sebagai sentra budidaya ikan mas koki didukung oleh beberapa faktor antara lain sarana dan prasarananya yang cukup baik, kebutuhan faktor produksi dapat dengan mudah diperoleh. Selain itu, kondisi sumberdaya alam di Tulungagung sangat mendukung usaha budidaya seperti lahannya dan dukungan sumber daya alam dari sungai Brantas dan irigasi Lodagung yang mengalir dari Lodoyo, Blitar sampai Tulungagung, membuat sumber air melimpah. Bahkan untuk mendapatkan air cukup menggali sedalam 3 – 6 meter saja, air sudah didapat.

3. Kediri
Kediri merupakan kawasan segitiga emas yang terkahir dengan komoditas ikan hias unggulannya adalah ikan cupang. Sentra budidaya ikan cupang di Kota kediri terletak Kecamatan Pesantren tepatnya di empat kelurahan yaitu Kelurahan Ketami, Kelurahan Jamsaren, Kelurahan Pesantren dan Kelurahan Tempurejo.

Ikan cupang sendiri telah menjadi penopang kehidupan bagi warga Kediri.Iikan cupang bukan sekadar hobi atau bisnis sampingan. Budidaya ikan cupang ini telah menjadi bisnis inti keluarga, tempat mereka mencari nafkah. Rata-rata setiap rumah memiliki lebih dari dua kolam ikan, bahkan sampai 10 kolam. Kegiatan usaha dibagi dua, yakni pembenihan dan pembesaran.

Masalah pemasaran bukanlah menjadi kendala bagi para pembudidaya ikan cupang di Kediri. Pesanan selalu saja ada yakni berasal dari Solo dan Semarang, Surabaya, Malang, serta Jakarta. Pemasaran ikan cupang Kediri tidak hanya di wilayah nasional, pasar cupang Kediri telah merambah pasar luar negeri. Harga ikan cupang di dalam negeri berkisar antara Rp 800 sampai Rp 10.000 per ekor, tergantung pada jenis dan kualitasnya. Bahkan bila kualitasnya bagus, harganya dapat mencapai ratusan ribu per ekor.

Ada empat jenis ikan cupang yang dibudidayakan di Kediri, yakni cupang plakat, cupang serit, cupang cagak atau double tile, dan cupang halfmoon. Ikan cupang yang paling banyak diminati adalah cupang halfmoon karena cantik dan jago berkelahi.

Produksi ikan cupang Kediri pada tahun 2011 mencapai 17.253.000 ekor atau sebesar 98,32 persen dari total produksi ikan hias Kediri dengan total nilai produksinya sebesar Rp. 2.482.500.000. Sementara share produksi ikan cupang Kediri secara total provinsi adalah sebesar 59,74 persen. Jumlah Rumah Tangga Perikanan Budidaya ikan hias di Kediri sebanyak 184 buah dengan jumlah pembudidayannya sebanyak 184 orang.

Sebenarnya daerah yang menjadi sentra produksi ikan hias di Jawa Timur dengan kekhasan komoditas unggulannya tidak hanya tiga daerah ini antara lain kabupaten Madiun yang menjadi sentra budidaya ikan Gapi dan beberapa daerah lainnya.

Potensi budidaya ikan hias Jawa Timur secara umum sangat menjanjikan. Dalam data Kementerian Perdagangan tahun 2012, Propinsi Jawa Timur termasuk 5 provinsi terbesar penyumbang ekspor ikan hias dengan nilai ekspor tahun 2011 lalu sebesar US$ 275.818 dengan market share nasional sebesar 1,39 persen. Dalam data tersebut, tren volume ekspor ikan hias di Indonesia 2007-2011 meningkat 11,56 persen dengan tren peningkatan nilai ekspor ikan hias mencapai 29,38 persen dalam periode yang sama. Tujuan ekspornya sendiri yaitu ke Singapura (US$ 1.935.503), Jepang (US$ 1.608.213), Amerika (US$ 1.605.028), Malaysia (US$ 1.273.255), dan China (US$ 1.238.254).

Sumber: http://www.djpb.kkp.go.id
 

0 comments:

Poskan Komentar