Nourishing People

Menu Lele Goreng Salsa Mangga

Bahan:

  1. 4 ekor Lele, buang isi perutnya
  2. 1/4 sdt garam
  3. 4 siung bawang putih, haluskan
  4. 1/2 buah jeruk nipis
  5. 500 ml minyak goreng


Salsa Mangga:

  1. 1 sdt minyak wijen
  2. 2 sdm daun ketumbar, iris halus
  3. 1/2 batang daun bawang, iris halus
  4. 2 buah cabai merah, cincang
  5. 1 buah mangga manalagi, kupas, potong korek api
  6. 1/2 buah timun jepang, buang bijinya, potong korek api
  7. 2 buah cabai rawit, iris halus
  8. 1/4 sdt garam
  9. 2 sdt gula pasir
  10. 2 sdt jeruk nipis

Cara Membuat:
  1. Sayat lele, bumbui dengan garam, bawang putih dan jeruk nipis, aduk rata. Diamkan 10 menit.
  2. Panaskan minyak goreng, goreng lele hingga matang dan berwarna cokelat keemasan. Angkat dan tiriskan.
  3. Salsa Mangga: Panaskan minyak wijen, tumis daun ketumbar, daun bawang dan cabai merah cincang hingga layu, angkat. Masukkan mangga, timun jepang, cabai rawit, garam, gula pasir, dan jeruk nipis, aduk hingga rata.
  4. Penyajian: Siapkan piring saji, letakkan lele dan siramkan salsa mangga di atasnya. Sajikan dengan taburan cabai merah dan daun ketumbar.
  5. Sajikan selagi panas.

Sumber: Warta Pasar Ikan Edisi Juli 2010, No. 83
 

Syarat Lokasi Ternak Ikan Lele

Berikut ini beberapa syarat lokasi ternak lele yang harus diperhatikan:

  1. Memperhatikan jenis tanah. Tanah yag baik untuk pembuatan kolam lele adalah tanah yang berjenis lempung atau tanah liat. Tanah tersebut harus mengandung lumpur, tidak berporous, dan memiliki kesuburan yang baik. Contoh lokasi yang cocok untuk ternak lele adalah persawahan, pekarangan rumah, kebun atau di tempat lain yang tanahnya dapat memenuhi syarat lokasi ternak lele.
  2. Berdekatan dengan sumber air. Lokasi ternak lele yang efisien sebaiknya berdekatan dengan sumber air. Elevasi tanah antara permukaan lolam dan sumber air adalah 5-10 %.
  3. Lokasi budidaya lele sebaiknya jauh dari jalan raya. 
  4. Tempatyang teduh sangat baik untuk ikan lele, namun jangan menempatkan kolam lele dibawah pepohonan yang daunnya mudah berguguran. 
  5. Hindari lokasi ternak  lele yang rawan banjir
  6. Perhatikan suhu. Suhu yang baik untuk ikan lele adalah 20 derajat Celcius. Suhu optimal  untuk lele antara 25-28 derajat Celcius. Untuk pertumbuhan larva lele, suhu yang diperlukan adalah 26-30 derajat Celcius dan suhu yang baik untuk proses pemijahan adlah 24-28 derajat Celcius.
  7. Lokasi yang memiliki kondisi air yang agak tenang dan memiliki kedalaman yang cukup juga merupakan salah satu persyaratan kolam lele yang harus diperhatikan.
  8. pH air yan baik untuk lele adlaah 6,5-9.
  9. Tingkat kekeruhan (turbidity) untuk kolam lele adalah 30-60 cm, kekeruhan yang dimaksud bukanlah kekeruhan lumpur.
  10. Kebutuhan oksigen optimal ikan lele adalah 0,3 ppm untuk lele dewasa, serta oksigen tingkat jenuh untuk lele ukuran burayak. Hal ini akan membuat ikan lele tetap hidup meskipun dalam kondisi air yang kurang kadar oksigennya. Namun hal ini selama air tidak tercemar oleh zat kimia atau zat yang mematikan lainnya.
  11. Permukaan air kolam juga harus dijaga, jangan sampai ditutupi oleh material-material yang merugikan seperti sampat atau tumbuhan enceng gondok.
Sumber: Muktiani, " Budidaya Lele Sangkuriang dengan Kolam Terpal", Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2011.
 

Hubungan Minyak Ikan dan Mood


Para peneliti di Austria baru-baru ini melaporkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa pil minyak ikan dapat mencegah schizophrenia pada anak muda. Di Universitas Cincinnati (UC), peneliti di departemen psikiatri sedang meneliti tentang omega-3 yang banyak terdapat pada minyak ikan karena berpotensi untuk mencegah gangguan bipolar pada perkembangan anak. “Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa anak yang memiliki orang tua dengan gangguan bipolar kemungkinan memiliki kadar asam lemak omega-3 yang lebih rendah pada otak mereka”, ungkap Melissa DelBello, MD, seorang Profesor Psikiatri dan Pediatri serta Vice Chair Penelitian Klinis di Departemen Psikiatri.

Minyak ikan omega-3 merupakan asam lemak yang banyak ditemukan dalam ikan di perairan dingin seperti salmon, herring, trout, tuna, makarel, teri dan sardin. Sumber-sumber lainnya diantaranya antara lain biji rami, labu dan kenari. Banyak orang mengkonsumsi minyak ikan sebagai suplemen dalam bentuk pil karena suplemen tersebut saat ini tersedia lebih praktis dan mudah didapat di toko dan apotek. Docosahexaenoic acid (DHA) merupakan asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk otak.

Kadar DHA yang rendah pada otak berhubungan secara langsung dengan depresi, schizophrenia, kehilangan memori dan berisiko tinggi mengalami penyakit Alzheimer. Eicosapentaenoic acid (EPA) berkaitan erat dengan perilaku dan suasana hati (mood) seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa kadar EPA yang rendah banyak dialami oleh pasien depresi. “Semakin banyak orang percaya bahwa mereka harus mengkonsumsi omega-3 untuk melindungi otak mereka, sama pentingnya seperti melindungi jantung mereka”, DelBello menambahkan.

Penelitian tentang asam lemak omega-3 dan pencegahan gangguan bipolar pada anak telah didanai oleh the National Institute of Mental Health (NIMH). DelBello mengumpulkan anak-anak dan remaja yang memiliki tingkat kemurungan atau depresi yang cukup ekstrim serta anak-anak dan remaja yang memiliki orang tua dengan gangguan bipolar. Anak-anak dan orang tua telah diwawancarai dan menjalani scan otak non-invasif dan uji neurokognitif melalui tekateki dan permainan. Jika mereka memenuhi syarat untuk penelitian tersebut, maka anak-anak akan diberi suplemen omega-3 dan mereka dimonitor perkembangannya dari waktu ke waktu (jika tidak, mereka dapat diobati dengan obat lainnya, dimonitor ataupun kedua-duanya). Penelitian tersebut terbuka untuk umum, dan bagi yang berminat untuk menjadi salah satu peserta, maka dapat menghubungi universitas tersebut.

Sumber: Warta Pasar Ikan Edisi Juli 2010, No. 83
 

Harga Bibit Lele Sangkuriang Per Tanggal 26 April 2012

Berikut kami akan melakukan update harga benih lele sangkuriang di wilayah Pare Kediri Jawa Timur, Per tanggal 26 April 2012 dan perubahan hasil produksi benih lele sangkuriang dari My Catfish. Terhitung mulai tanggal ini, My Catfish hanya menyediakan bibit lele sangkuriang ukuran 5-6 cm saja dari sebelumnya ukuran 5-6 cm dan ukuran 7-8 cm, dikarenakan permintaan pasar dan pelanggan kami yang membutuhkan ukuran bibit lele sangkuriang 5-6 cm sangat banyak. Perubahan hasil produksi ini kami tetapkan untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, jadi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan harap maklum.

Harga benih lele sangkuriang sebagai berikut:

No
Ukuran
Harga pembelian
kurang dari 10.000 ekor
Harga pembelian
lebih dari 10.000 ekor
1.     
5-6 cm
Rp 135 /ekor
Rp 120 /ekor


Ketentuan selengkapnya mengenai harga benih lele Saudara bisa melihat di daftar harga benih kami, terima kasih.
 

Jual Bibit Lele Sangkuriang di Nganjuk Jawa Timur

Kami menyediakan bibit lele sangkuriang berkualitas dari Indukkan bersertifikat BBPBAT Sukabumi untuk daerah Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya meliputi kecamatan Loceret, Wilangan, Bagor, Sukomoro, Tanjunganom, Pace, Prambon, Berbek, Sawahan, Ngetos, Kertosono, Baron, Ngronggot, Patianrowo, Lengkong, Jatikalen, Gondang, Ngluyu dan Rejoso.

Kami akan memberikan harga terbaik untuk para peternak pembesaran ikan lele, anda bisa membandingkan harga bibit lele sangkuriang kami dengan harga ditempat yang lain. Kami juga melayani pengiriman ke daerah Nganjuk. 

Salam,
My Catfish
Pusat Bibit Lele Sangkuriang Pare Kediri

 

Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) P2HP

Sejalan dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kelautan Perikanan yang telah ada sejak 2009, secara konsisten Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menelurkan program serupa yaitu Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP). Program ini digadang menjadi motor pemberdaya dan peningkatan pendapatan masyarakat. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) ikut berpartisipasi dalam program tersebut. 

Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan atau yang disebut PUMP-P2HP merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dimana salah satunya melalui fasilitasi bantuan pengembangan usaha bagi pengolah dan pemasar hasil perikanan dalam wadah Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar). Program PUMP-P2HP dilaksanakan atas dasar amanat Menteri Kelautan dan Perikanan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 21/MEN/2010 tentang Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan. 

Melalui PUMP-P2HP diharapkan bisa membantu wirausaha kecil bidang pengolahan dan pemasaran perikanan untuk meningkatkan skala usahanya sehingga mampu meningkatkan pendapatan mereka serta membuka lapangan kerja baru. “Target kami tahun ini bisa membentuk Kelompok Pengolahan dan Pemasaran (Poklahsar) hasil perikanan sebanyak 408 kelompok yang tersebar di 51 kabupaten/kota,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kemlutkan) Dr. Victor PH Nikijuluw. Poklahsar merupakan kelembagaan masyarakat kelautan dan perikanan bidang pengolahan dan pemasaran yang akan menerima bantuan dana PUMP-P2HP. 

Bantuan PUMP–P2HP saat ini diprioritaskan untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan yang memiliki nilai tambah yaitu, pengolahan abon ikan, kerupuk ikan, bakso ikan, kaki naga, sosis ikan, nugget ikan, dan aneka olahan rumput laut. Di samping itu, bantuan PUMP–P2HP juga diberikan untuk mengembangkan usaha pemasaran hasil perikanan. Adapun persyaratan khusus calon penerima PUMP P2HP 2011 adalah sebagai berikut: 
  1. Memiliki profil usaha 
  2. Memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola usaha mina 
  3. Mempunyai kepengurusan yang aktif dan dikelola oleh pengolah dan pemasaran 
  4. Tercatat sebagai kelompok binaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/ Kota
  5. Telah beroperasi minimal 1 tahun 
  6. Memiliki kontinuitas pemasaran 
  7. Satu Kelompok Pengolah atau Pemasar (POKLAHSAR) hanya diperbolehkan mengusulkan satu jenis menu usaha PUMP-P2HP yang diprioritaskan untuk dipilih kelompoknya
  8. Satu POKLAHSAR hanya berhak memperoleh satu paket menu BLM PUMPP2HP 
Penyaluran bantuan PUMP–P2HP kepada Poklahsar, akan dibantu oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagai tim pembina sedangkan Dinas Kabupaten/ kota yang membidangi kelautan dan perikanan sebagai tim teknis dan tenaga pendamping yang berada di Kabupaten/Kota penerima PUMP–P2HP. Sementara di tingkat pusat, PUMP - P2HP dilaksanakan oleh Kelompok Kerja (Pokja) PUMP - P2HP yang sekretariatnya berada di Direktorat Usaha dan Investasi, Direktorat Jenderal P2HP, Kemkanlut. 

Mekanisme penyaluran bantuan PUMP–P2HP akan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari Kabupaten/ Kota, Propinsi hingga Pusat, yang meliputi identifikasi, seleksi dan verifikasi baik data Poklahsar maupun terkait persyaratan dokumen administrasi penyaluran PUMP-P2HP. 

Pemanfaatan bantuan PUMP–P2HP yang telah diterima POKLAHSAR harus segera dimanfaatkan untuk pembelian peralatan pengolahan yang telah ditentukan dalam Rencana Usaha Bersama (RUB) Poklahsar sesuai dengan kesepakatan kelompoknya. Dalam pemanfaatan bantuan tersebut, peran tenaga pendamping sangat dituntut keahliannya dalam membina kelompok tersebut, sehingga bantuan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. 

Sumber: Warta Pasar Ikan Edisi Februari 2011 No. 90
 

Jual Bibit Lele Sangkuriang Mojokerto Jawa Timur

Anda mencari bibit lele sangkuriang di Mojokerto? Anda ragu apakah bibit lele sangkuriang yang sudah anda beli berasal dari induk lele sangkuriang bersertifikat? jangan kawatir, kami menyediakan bibit lele sangkuriang untuk Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto meliputi Kecamatan Dawar Blandong, Kemlagi, Jetis, Gedeg, Mojoanyar, Sooko, Puri, Bangsal, Trowulan, Dlanggu, Jatirejo, Kutorejo, Pungging, Ngoro, Trawas, Pacet, Gondang. Kami juga siap melakukan pengiriman ke kecamatan di seluruh wilayah Mojokerto. Kami peternak bibit lele sangkuriang bukan tengkulak, jadi kami akan memberikan harga terbaik untuk anda.

Salam,
My Catfish
Pusat Bibit Lele Sangkuriang Pare Kediri



 

Predator/Hama Benih Ikan (Lele)

Predator secara harfiah diartikan sebagai pemangsa. Predator merupakan istilah asing untuk menyebut hama pengganggu hewan peliharaan dalam hal ini benih ikan (lele). Pada dasarnya predator atau hama adalah binatang yang sifatnya karnivora (pemakan daging) dengan cara memangsa  atau menyantap targetnya. Jadi dalam hal ini memangsa diartikan sebagai sengaja memburu target kemudian memakannya.

Predator/hama benih ikan ada yang hidup di air bersama ikan yang dipelihara dan ada pula yang hidup di darat (di luar kola ikan). Predator benih ikan ini ada yang tinggal menetap di sekitar kolam dan ada pula yang hanya sekedar lewat dalam rangka migrasi. Dalam praktiknya, predator benih ikan ada yang memakan atau menyantap langsung benih ikan secara utuh dan ada pula yang mematikan target terlebih dahulu beberapa waktu kemudian dimakan setelah menjadi bangkai. Selain itu, ada juga predator benih ikan yang hanya mematikan benih ikan untuk diisap darah atau cairan tubuhnya, sementara tubuh benih ikan yang sudah mati tidak dimakan tetapi dibiarkan begitu saja.

Predator benih ikan umumnya  merupakan binatang tingkat tinggi yang langsung menggangu atau mengancam kehidupan ikan. Karena berukuran kecil dan memiliki kondisi tubuh yang masih lemah, serta cenderung hidup berkelompok, maka benih ikan merupakan santapan empuk sang predator ketimbang ikan yang sudah berukuran dewasa. Selain itu benih yang masih berukuran kecil tidak mampu menghindar apalagi melakukan perlawanan terhadap predator.

Predator benih ikan menjadi ancaman yang berbahaya bagi kelangsungan usaha pembenihan ikan terutama apabila predator tersebut menyerang secara berkelompok. Sebaliknya, benih ikan akan mudah dimangsa karena memiliki sifat hidup berkelompok dan kadang kala berkumpul (schooling) pada satu lokasi tertentu. Dengan demikian, peluang untuk menyelamatkan diri menjadi semakin kecil. Predator yang berukuran jauh lebih besar dari mangsanya, biasanya memangsa santapan dalam jumlah banyak dan biasanya dilakukan barkali-kali.

Sejauh ini para ahli dan pengamat perikanan budidaya, khususnya pada kegiatan pemeliharaan benih ikan, telah mengidentifikasi jenis-jenis predator yang potensial memangsa ikan. Para pembudidaya ikan  pun sebenarnya sudah mengenal predator ikan tersebut. Beberapa jenis predator yang sering menyerang atau memangsa benih ikan serta dikategorikan sebagai predator yang paling berbahaya antara lain:
  1. Predator kelompok hewan besar: Berang-Berang, Biawak, Ular, Katak, Burung, Labi-Labi, Kepiting/Ketam;
  2. Predator ikan buas: ikan gabus, belut;
  3. Predator kelompok hewan kecil (serangga air): ucrit (larva Cybister), Notonecta, Kini-Kini
Sampai sejauh ini belum ada yang mencoba menghitung seberapa besar sebenarnya tingkat kematian yang terjadi akibat serangan predator pada benih ikan. Namun dari kenyataan tingginya tingkat kematian benih yang terjadi selama ini, diyakini bahwa predator ikan akibat tingginya tingkat kematian benih.

Sebagai gambaran, pengalaman sejumlah praktisi pembenihan menunjukkan bahwa pada pemeliharaan benih ikan di kolam terbuka dengan jumlah populasi misalnya 20.000 ekor, bisa turun drastis menjadi 10.000 ekor dalam periode satu bulan. Itu artinya tingkat kematian mencapat 50 %. Pada bulan kedua, bisa jadi jumlah benih yang tersisa hanya tinggal sekitar 5.000 ekor saja. Jumlah kematian sebesar ini memang tidak serta merta dapat dibuktikan akibat dimangsa predator. Mungkin juga ada faktor lain, misalnya termasuk kualitas benih yang jelek dan kualitas lingkungan perairan yang tidak mendukung. Namun yang jelas, dari sini terlihat bahwa kehadiran predator secara ekonomis sangat merugikan usaha pembenihan.

Sumber: Khairul Amri dan Toguan Sihombing, " Mengenal & Mengendalikan Predator Benih Ikan:, Jakarta: Gramedia, 2007.



 

Jual Bibit Lele Sangkuriang daerah Malang Jawa Timur

Kami menyediakan bibit/benih lele sangkuriang berkualitas dengan harga terjangkau untuk para peternak pembesaran ikan lele di daerah Kota Malang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang meliputi kecamatan Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Dau, Donomulyo, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Sumbermanjing Wetan, Singosari, Sumberpucung, Tajinan, Tirtoyudo, Tumpang, Turen, Wagir, Wajak dan Wonosari. Lihat profil kami, lihat daftar harga benih kami, dan tentukan pilihan anda.

Salam,
My Catfish
Pusat Bibit Lele Sangkuriang Pare Kediri


 

Tips Pintar Memilih Ikan Segar


Makan ikan sangat baik untuk kesehatan. Kandungan protein dan lemak omega-3 yang tinggi pada ikan dapat membantu memperbaiki sel-sel otak. Disisi lain, Ikan merupakan salah satu makanan yang tergolong cepat rusak. Tingginya kandungan protein menyebabkan ikan dapat menimbulkan bau busuk yang menyengat jika rusak. Untuk mendapatkan ikan yang baik dikonsumsi, tentu saja dimulai dari pemilihan ikan yang segar. Bagaimana cara memilihikan segar? Simak tipsnya :

Ikan Utuh

• Mata
Mata ikan adalah indikator paling baik untuk menentukan kesegaran ikan. Pilih ikan yang matanya masih bening dan cerah. Selain itu, dapat dicoba memegang matanya. Jika matanya masih menonjol dan tidak melesak saat dipegang, artinya ikan masih segar. Ikan yang sudah menurun kualitasnya,matanya terlihat cekung, buram serta mata kelabu tertutup lendir;

• Sisik
Cermati sisik ikan apakah masih terlihat bercahaya. Ikan yang segar dapat diamati dari sisiknya yang bersih dan masih berwarna metalik. Selain itu sisik ikan segar masih utuh dan melekat kuat. Jika sudah tidak segar, sisik menjadi mudah lepas dan warna memudar.

• Lendir
Lendir yang dikeluarkan dari permukaan ikan segar masih jernih dan tidak terlalu kental. Jangan pilih ikan yang lendirnya mulai berwarna keruh dan kental.

• Insang
Ikan yang masih segar, insangnya berwarna merah cerah. Perhatikan pula apakah insangnya bersih dari segala kotoran. Jika sudah tidak segar, insang menjadi keabuan, berlendir dan berbau amis.

• Daging
Kesegaran ikan bisa dilihat dari warna dagingnya yang cerah dan tidak pucat. Kekenyalannya juga masih baik. Bila ditekan, daging ikan yang masih segar terasa keras dan kenyal. Sedangkan ikan yang sudah tidak segar lagi dagingnya lembek dan membekas bila ditekan.

• Aroma
Ikan yang masih segar mengeluarkan aroma air segar atau air laut. Jika mulai berbau anyir, ikan sudah mulai busuk.

Fillet

• Kulit
Jika fillet ikan masih ada kulitnya, perhatikan apakah kulit tersebut masih berwarna cerah dan menempel dengan baik. Ikan yang sudah tidak segar, kulitnya mulai kusam dan mudah mengelupas;

• Daging
Sama seperti ikan utuh, perhatikan warna dagingnya, apakah masih sega rdan berwarna cerah. Pencet sedikit dagingnya, jika masih keras dan kenyal berarti ikan masih segar.


Sumber: Warta Pasar Ikan Edisi Februari 2011 No. 90
 

Belimbing Wuluh Menghambat Bakteri Aeromonas salmonicida

Pada tahun 1890, Emmerich dan Weibel pertama kali menemukan A. salmonicida pada ikan trout di Jerman. Strain dari A. salmonicida dapat menimbulkan gejala furunculosis (Holt et al, 1994). Wabah A. salmonicida pernah terjadi pada bulan Oktober 1980, terutama di daerah Jawa Barat. Kerugian yang ditimbulkannya kira-kira mencapai 4 milyar rupiah (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007). Serangan bakteri ini baru terlihat apabila ketahanan tubuh ikan menurun akibat stres yang disebabkan oleh penurunan kualitas air, kekurangan pakan atau penanganan yang kurang tepat (Afrianto dan Liviawaty, 1992). Aeromonas salmonicida dapat dijumpai di lingkungan air tawar maupun air laut. Penularan bakteri Aeromonas dapat berlangsung melalui air, kontak badan, kontak dengan peralatan yang telah tercemar atau karena pemindahan ikan yang terserang Aeromonas dari satu tempat ke tempat lain (Afrianto dan Liviawaty, 1992). 

Saat ini penyakit furunculosis yang disebabkan bakteri A. salmonicida dilakukan pengobatan dengan menggunakan antibiotik. Menurut Cipriano dan Bullock (2001), antibiotik yang digunakan untuk A. salmonicida adalah ampicillin. Penggunaan antibiotik ternyata dapat menimbulkan efek samping bagi patogen itu sendiri maupun terhadap ikan yang dipelihara. Pemberian antibiotik secara terus menerus dapat menyebabkan organisme patogen menjadi resisten, sehingga penggunaan antimikroba menjadi tidak efektif. Selain itu, residu dari antibiotik tersebut dapat mencemari lingkungan perairan yang mengakibatkan kualitas air menjadi turun (Retnawati, 2008). 

Adalah Proyogo, Boedi Setya Rahardja dan Rena Wilis Putri, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, telah melakukan sebuah penelitian ilmiah dengan judul “Uji Potensi Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Aeromonas salmonicida smithia Secara In Vitro”. Penelitian dilakukan di laboratorium Bakteriologi Balai Karantina Ikan, Sidoarjo dan laboratorium Human Genetic Institute of Tropical Disease Centre Universitas Airlangga, Surabaya, pada bulan Februari 2011. 

Bahan penelitian yang digunakan adalah bakteri A. salmonicida smithia yang diperoleh dari Balai Karantina Ikan, Sidoarjo, buah belimbing wuluh, Tripticase Soy Agar (TSA), Mc Farland nomor 0,5, aquades, saringan, kertas saring, kertas label, aluminium foil dan paper disk. Peralatan penelitian yang digunakan meliputi blender, tabung erlenmeyer, cawan petri, mikropipet, rak, tabung reaksi, corong, jarum ose, freeze dryer, laminar flow, autoclave, pembakar bunsen, penggaris, botol kaca dan vortex. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. 

Prosedur kerja dalam penelitian ini pertama membuat simplisia buah belimbing wuluh. Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dicuci kemudian dipotong kecil-kecil untuk selanjutnya di blender sampai benar-benar halus. Hasil jus kemudian disaring dengan menggunakan saringan, selanjutnya disaring kembali menggunakan kertas saring dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer (Adriana, 1992 ; Adriani, 1992). Hasil dari jus buah belimbing wuluh kemudian diuapkan dengan alat freeze dryer selama 48 jam untuk mendapatkan simplisia dari buah belimbing wuluh (Zalizar, 2010 ; Trilaksani dkk., 2006), selanjutnya menyiapkan larutan sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan berbagai konsentrasi. Metode yang digunakan adalah metode difusi dengan berbagai konsentrasi pengenceran secara berseri. Larutan sari buah belimbing yang digunakan dalam penelitian adalah 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml, 0,125 gr/ml, dan 0,0625 gr/ml. 

Penelitian ini menggunakan metode difusi dengan paper disk. Menurut Wibowo (2002), cara mengukur zona hambat dilakukan dengan mengukur secara garis lurus tengah zona hambat atau diukur dari tepi kanan sampai tepi kiri zona hambat yang terbentuk. 

Hasil penelitian ini dapat dilihat dari besar kecil zona hambat yang terbentuk di sekeliling paper disk. Sari buah belimbing wuluh dinyatakan sangat peka, cukup peka dan tidak peka terhadap bakteri A. salmonicida smithia disesuaikan dengan standar antibiotik seperti ampicillin. Menurut Rao (1996), ampicillin dinyatakan sangat peka dengan ukuran zona hambat 17 mm, cukup peka dengan ukuran zona hambat 14 – 16 mm dan kurang peka dengan ukuran zona hambat 13 mm. 

Pada ulangan 1, 2 dan 3 dapat diamati bahwa A. salmonicida smithia cukup peka terhadap sari buah belimbing wuluh pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dinyatakan bahwa pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml, sari buah belimbing wuluh dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia, karena zona hambat yang terbentuk sesuai dengan standar umum antibiotik ampicillin. 

Hasil besar zona hambat pada konsentrasi 0,125 gr/ml pada ulangan 1, 2 dan 3 total rata-rata menunjukkan diameter yang dihasilkan 14 mm, sehingga pada konsentrasi tersebut sari buah belimbing wuluh dinyatakan sudah cukup peka dalam menghambat pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia secara in vitro. 

Pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml diameter yang dihasilkan 14 mm yang sesuai dengan standar umum antibiotik seperti ampicillin. Hal ini disebabkan pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml mengandung zat antibakteri yang lebih banyak dibandingkan pada konsentrasi 0,0625 gr/ml, karena besar zona hambat yang dihasilkan 13 mm. Boyd (1995) menyatakan bahwa semakin kecil konsentrasi maka kemampuan zat antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri juga semakin kecil. 

Tanaman belimbing wuluh telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Adapun kandungan bahan kimia alami dari buah belimbing wuluh yang diketahui mempunyai efek antibakteri yaitu, flavonoid dan fenol (Hembing, 2008). Senyawa aktif flavonoid di dalam sari buah belimbing wuluh memiliki kemampuan membentuk kompleks dengan protein sel bakteri melalui ikatan hidrogen. Struktur dinding sel dan membran sitoplasma bakteri yang mengandung protein, menjadi tidak stabil karena struktur protein sel bakteri menjadi rusak karena adanya ikatan hidrogen dengan flavonoid, sehingga protein sel bakteri menjadi kehilangan aktivitas biologinya, akibatnya fungsi permeabilitas sel bakteri terganggu dan sel bakteri akan mengalami lisis yang berakibat pada kematian sel bakteri (Harborne, 1987). 

Pertumbuhan sel bakteri dapat terganggu oleh komponen fenol dari sari buah belimbing wuluh, yaitu dengan cara mendenaturasi protein sel bakteri. Akibat terdenaturasinya protein sel bakteri, maka semua aktivitas metabolisme sel bakteri terhenti, sebab semua aktivitas metabolisme sel bakteri dikatalisis oleh enzim yang merupakan protein (Lawrence dan Block, 1968). Menurut Marcus et al (1991), fenol juga dapat menyebabkan kerusakan dinding sel. Fenol berikatan dengan protein melalui ikatan hidrogen, sehingga mengakibatkan struktur protein menjadi rusak. Sebagian besar struktur dinding sel dan membran sitoplasma bakteri mengandung protein dan lemak. 

Berdasarkan hasil penelitian yang di dapat terjadi perbedaan dalam hal pertumbuhan bakteri, karena adanya perbedaan konsentrasi. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Pelczar dan Chan (1988), bahwa cara kerja zat antibakteri dalam menghambat bakteri dipengaruhi oleh konsentrasi zat antibakteri tersebut. 

Sari buah belimbing wuluh diduga efektif bila digunakan sebagai obat, karena pada konsentrasi kecil mampu untuk menghambat bakteri A. salmonicida smithia secara in vitro. Ernst (1991) menyatakan, terapi obat yang bermanfaat adalah dengan pemberian konsentrasi yang cukup dan tidak berlebihan sebagai syarat utama. Pada penelitian ini, pemberian konsentrasi 0,125 gr/ml sudah mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri. 

Sumber: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No. 2, November 2011
 

Ciri-Ciri Induk Lele Betina

Ciri Induk lele betina adalah:

  1. Kepala lebih besar dibanding induk lele jantan;
  2. Warna kulit dada agak terang;
  3. Urogenital papila (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus;
  4. Gerakannya lambat, 
  5. Tulang kepala pendek dan agak cembung;
  6. Perutnya lebih gembung dan lunak;
  7. Bila matang gonad dan di stripping (diurut) dibagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur)
Sumber: Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp.
 

Ciri-Ciri Induk Lele Jantan

Ciri-ciri induk lele jantan, secara singkat adalah sebagai berikut:

  1. Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina;
  2. Warna kulit dada agak tua bila dibandingkan dengan induk lele betina;
  3. Urogenital papila (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus dan berwarna kemerahan;
  4. Gerakannya lincah;
  5. Tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress);
  6. Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina;
  7. Bila induk matang gonad, dan di stripping (diurut) dibagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa);
  8. Kulit lebih halus dibandingkan induk lele betina.
Sumber: Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan danPemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp.
 

Jual Bibit Lele Sangkuriang untuk Kecamatan di Wilayah Kediri Jawa Timur

Anda peternak budidaya pembesaran ikan lele? Anda ingin mencoba atau beralih dari pembesaran lele dumbo ke lele sangkuriang? Anda kesulitan mendapatkan bibit lele sangkuriang berkualitas dengan harga terjangkau? Apakah lokasi anda berada di Kediri Kota, atau di Kecamatan Mojo, Semen, Ngadiluwih, Keras, Ringinrejo, Kandat, Wates, Ngancar, Plosoklaten, Gurah, Puncu, Kepung, Kandangan, Pare, Badas, Kunjang, Plemahan, Purwoasri, Papar, Pagu, Gampengrejo, Banyakan, Grogol dan Tarokan?

Jika jawaban dari semua pertanyaan kami diatas adalah ya, maka kami mempunyai solusi atas segala permasalahan anda.

Langsung saja hubungi kami, www.mycatfish.com , Pusat Bibit Lele Sangkuriang Pare Kediri. Gak perlu bingung-bingung, gak usah jauh-jauh, langsung lihat daftar harga kami, kami akan memberikan harga terbaik untuk anda, bandingkan dengan harga dari peternak lele sangkuriang lain. Anda cocok dengan harga kami? lakukan pemesanan bibit lele sangkuriang segera, cara pemesanan sangat mudah, bisa lewat telfon atau sms. Anda ragu tentang kami? kami memiliki induk lele sangkuriang bersertifikat dari BBPBAT Sukabumi (nanti kami tunjukkan aslinya). Tetap ragu?, datang langsung ke tempat kami, kami siap melayani anda.


 

Kebiasaan Makan Ikan Lele

Lele mempunyai kebiasaan makan di dasar perairan atau kolam (bottom feeder). Berdasarkan jenis pakannya, lele digolongkan sebagai ikan yang bersifat karnivora (pemakan daging). Di habitat aslinya, lele makan cacing, siput air, belatung, laron, jentik-jentik serangga, kutu air, dan larva serangga air. Karena bersifat karnivora, pakan tambahan yang baik untuk lele adalah yang banyak mengandung protein hewani. Jika pakan yang diberikan banyak mengandung protein nabati, pertumbuhannya lambat. 

Lele bersifat kanibalisme, yaitu sifat suka memangsa jenisnya sendiri. Jika kekurangan pakan, lele tidak segan-segan memangsa kawannya sendiri yang berukuran lebih kecil. Oleh karena itu jangan sampai terlambat memberinya makan. Sifat kanibalisme juga ditimbulkan oleh adanya perbedaan ukuran. Lele yang berukuran besar akan memangsa ikan lele yang berukuran lebih kecil.

Sumber: Mahyuddin, Kholish, "Panduan Lengkap Agribisnis Lele", Jakarta: Penebar Swadaya, 2011.
 

Habitat dan Tingkah Laku Ikan Lele

Habitat atau lingkungan hidup lele banyak ditemukan diperairan air tawar, di dataran rendah sampai sedikit payau. Untuk perairan sedikit payau, banyak warga pantura Jawa, seperti di Kendal, Jawa Tengah, memanfaatkan bekas tambak untuk pembesaran lele dumbo. Di alam, ikan lele hidup di sungai-sungai yang arusnya mengalir secara perlahan atau lambat, danau, waduk, telaga, rawa, serta genangan air tawar lainnya, seperti kolam. Karena lebih menyukai perairan yang tenang, tepian dangkal, dan terlindung, ikan lele memiliki kebiasaan membuat atau menempati lubang-lubang di tepi sungai atau kolam.

Lele jarang menampakkan aktivitasnya pada siang hari dan lebih menyukai tempat yang gelap, agak dalam, dan teduh. Hal ini bisa dimengerti karena lele adalah binatang nokturnal, yaitu mempunyai kecenderungan beraktivitas dan mencari makan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele memilih berdiam diri atau berlindung di tempat-tempat yang gelap. Akan tetapi, pada kolam pemeliharaan, terutama budidaya secara intensif, lele dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap lebih tinggi jika diberikan pada malam hari. 

Ikan lele relatif tahan terdahadap kondisi lingkungan yang kualitas airnya jelek. Pada konsisi kolam dengan padat penebaran yang tinggi dan kandungan oksigennya sangat minim pun, lele masih dapat bertahan hidup. Namun, pertumbuhan dan perkembagang ikan lele bakal lebih cepat dan sehat jika dipelihara dari sumber air yang cukup bersih, seperti air sungai, mata air, saluran irigasi ataupun air sumur.

Sumber: Mahyuddin, Kholish, "Panduan Lengkap Agribisnis Lele", Jakarta: Penebar Swadaya, 2011.
 

Jual Bibit Lele Sangkuriang untuk daerah Blitar Jawa Timur

Bagi pembudidaya pembesaran ikan lele, baik yang sudah profesional maupun baru pemula, di daerah Blitar Jawa Timur meliputi kecamatan Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, Wonotirto, Sananwetan, Kepanjenkidul, Sukorejo, dapat menghubungi kami atau melakukan pemesanan untuk mendapatkan bibit lele sangkuriang berkualitas dengan harga terjangkau, kami juga melayani pengiriman ke daerah Anda. 

Salam, 
My Catfish
Pusat Bibit Lele Sangkuriang Pare Kediri Jawa Timur

 

Lele Sangkuriang Sebagai Varietas Unggul Baru


Dalam rangka memperkaya jenis dan varietas ikan lele lokal, serta meningkatkan produksi, pendapatan, dan kesejahteraan pembudidaya ikan, maka pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan memandang perlu memperkenalkan ikan lele (Clarias sp.) sebagai ikan varietas unggul dan melepaskannya kepada masyarakat. Pelepasan ikan lele jenis baru ini berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.26/MEN/2004 Tentang Pelepasan Varietas Ikan Lele Sebagai Varietas Unggul tanggal 21 Juli 2004, oleh Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu Rokhmin Dahuri. Varietas unggul lele baru tersebut dinamakan Lele Sangkuriang.

Deskripsi Varietas Ikan Lele Sangkuriang sesuai keputusan tersebut adalah:

NO
DESKRIPSI
NILAI
I.   
ASAL


Hasil silang-balik (Backcross) antara lele dumbo induk betina F2 dengan induk jantan F6

II.  
KARAKTER MERISTIK, MORFOMETRIK DAN GENETIK

1.     
Panjang standar, PS
23.00 - 34.00
2.     
Rasio panjang standar/panjang kepala
3.41 - 3.92
3.     
Rasio panjang standar/tinggi badan
7.21 - 9.09
4.     
Panjang kepala, PK (%PS)
25.49 - 29.31
5.     
Tinggi badan, TB (%PS)
11.00 - 13.88
6.     
Lebar badan, LB (%PS)
9.15 - 14.14
7.     
Lebar badan, LB (%PK)
34.31 - 51.81
8.     
Tinggi kepala, TK (%PK)
34.31 - 51.81
9.     
Jarak antara sirip punggung ke ujung moncong (%PS)
0.29 - 0.43
10.   
Tinggi pangkal ekor, TPE (%PS)
5.94 - 9.43
11.   
Diameter mata, DM (%PK)
3.90 - 7.31
12.   
Lebar mulut, LM (%PK)
27.42 - 47.50
13.   
Jarak antara dua bola mata (%PK)
34.29 - 44.29
14.   
Jarak antara ujung tutup insang bagian bawah ke ujung moncong (%PK)
28.94 - 42.86
15.   
Jarak antara sirip dada ke ujung moncong (%PS)
17.74 - 25.00
16.   
Jarak antara sirip perut ke ujung moncong (%PS)
43.55 - 47.06
17.   
Jarak antara sirip dubr ke ujung moncong (%PS)
46.43 - 56.60
18.   
Jumlah sirip punggung
58 - 77
19.   
Jumlah sirip dada I.
9 - 11
20.   
Jumlah sirip perut
18 - 21
21.   
Jumlah sirip dubur
37 - 52
22.   
Warna punggung
Hitam kehijauan
23.   
Warna perut
Putih kekuningan
24.   
Fluktuasi asimetri proporsi pada sirip perut
0.20
25.   
Fluksuasi asimetri proporsi pada sirip dada
0.36
III.          
KARAKTER REPRODUKSI

1.     
Kematangan gonad pertama (bulan)
8 - 9
2.     
Fekunditas (butir/kg induk betina)
40.000 - 60.000
3.     
Diameter telur (mm)
1.1 - 1.4
4.     
Lamanya waktu inkubasi telur pada suhu 23-24 derajat Celcius
30 - 36
5.     
Lamanya kantung telur terserap pada suhu 23-24 derajat Celcius
4 - 5
6.     
Derajat penetasan telur (%)
>90
7.     
Panjang larva umur 5 hari (mm)
9.13
8.     
Berat larva umur 5 hari (mg)
2.85
9.     
Sifat larva
Tidak kanibal
10.   
Kelangsungan hidup larva (%)
90-95
11.   
Pakan alami larva
Moina sp.
Daphnia sp.
Tubifex sp.
IV.          
KARAKTER PERTUMBUHAN

1.     
Pertumbuhan harian bobot benih umur 5 hari-26 hari (%)
29.26
2.     
Panjang standar rata-rata benih umur 26 hari
3-5
3.     
Kelangsungan hidup benih umur 5-26 hari (%)
>80
4.     
Pertumbuhan harian bobot benih umur 26 hari-40 hari (%)
13.96
5.     
Panjang standar rata-rata benih umur 40 hari (cm)
5-8
6.     
Kelangsungan hidup benih umur 26 hari-40 hari (%)
>90
7.     
Pertumbuhan harian bobot pada pembesaran selama 3 bulan (%)
3.53
8.     
Pertumbuhan harian bobot calon induk (%)
0.85
9.     
Konversi pakan pada pembesaran
0.8 - 1.0
V. 
TOLERANSI TERHADAP LINGKUNGAN

1.     
Suhu (derajat Celcius)
22 - 34
2.     
Nilai pH
6-9
3.     
Oksigen terlarut (mg/l)
>1
VI.          
TOLERANSI TERHADAP PENYAKIT

1.     
Intensitas Trichodina sp. pada pendederan di kolam (individu)
30 - 40
2.     
Intensitas Ichthiophthirius sp. pada pendedeeran di kolam (individu)
6.30