Nourishing People

Kandungan Oksigen Terlarut (DO) yang Baik dalam Budidaya Lele


Kandungan oksigen terlarut di dalam air merupakan faktor penting bagi kehidupan ikan, karena oksigen dibutuhkan dalam proses respirasi, proses pembakaran makanan untuk melalukan aktifitas seperti berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain (Zonneveld et al., 1991). Kadar oksigen terlarut dalam perairan alami bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen berkurang dengan meningkatnya suhu, ketinggian (altitude) dan berkurangnya tekanan atmosfer (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2000).

Sebagai catatan, suhu air pending diperhatikan karena naik-turunnya atau tinggi-rendah suhu bisa mempengaruhi kelarutan oksigen (O2) dan Nitrogen (N2) di dalam air pada tekanan 1 Atm (atmosfer). Tabel berikut memperlihatkan hal itu.

Suhu Air dalam Celcius
Oksigen dalam ppm
Nitrogen dalam ppm
23
8,6
14,1
24
8,4
13,9
25
8,2
13,6
26
8,1
13,4
27
7,9
13,2
28
7,8
13,0
29
7,7
12,8
30
7,5
12,6

Menurut Swingle dalam Boyd (1982) konsentrasi oksigen terlaurut yang dapat menunjang pertumbuhan dan peruses reproduksi yaitu lebih dari 5 ppm. Sedangkan menurut Wardoyo, kadar oksigen yang baik bagi kehidupan organisme perairan adalah antara 2-10 ppm. Sedangkan ikan lele termasuk jenis ikan yang mampu hidup di perairan yang kandungan oksigen terlarutnya sedikit karena ikan ini memiliki alat pernapasan tambahan yang memungkinkan untuk mengambil oksigen dari udara diluar air (Suyanto, 1995).

Untuk kebutuhan bakteri dalam proses nitrifikasi, ketersediaan oksigen tidak boleh kurang dari 2 mg/liter (Van Gorder dalam Timmons dan Lossordo, 1994). Menurut Muir (1982), jika kandungan oksigen tinggi maka kerja filter biologis dalam mengelimiri ammonia juga akan relative lebih efisien.

Sumber Oksigen terlarut bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Difusi oksigen ke air bisa terjadi secara langsung pada kondisi air diam (stagnant) atau terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya gelombang atau ombak dan air terjun. Difusi oksigen dari atmosfer ke perairan pada hakekatnya berlangsung relative lambat meskipun terjadi pergolakan  massa air. Oleh karena itu sumber utama oksigen di perairan adalah fotosintesis.

Sumber bacaan:
- Rema Unisa,"Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) dalam Sistem Resirkulasi dengan Debit Air 33 LPM/M3", IPB, 2000.
- Fitriah, Husnul,”Pengaruh Penambahan Dosis Karbon Berbeda pada Media Pemeliharaan Terhadap Produksi Benih Lele Dumbo (Clarias sp.)
- Tim Agriminakultura,“Bisnis & Budidaya Lele Dumbo & Lokal”, Gramedia: 2008.
 

Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Air dalam Budidaya Lele


Air sebagai tempat hidup ikan memegang peranan yang sangat penting dalam sistem budidaya lele secara intensif, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kualitas air dedefinisikan sebagai faktor kelayakan suatu perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme akuatik yang nilainya ditentukan dalam kisaran tertentu. Kualitas air dalam suatu wadah budidaya banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor fisika, kimia dan biologis (Boyd, 1982).

Sifat atau kandungan fisika air adalah suhu, kekeruhan, dan warna air. Sifat atau kandungan biologi air adalah jenis dan jumlah jasad renik air seperti plankton yang hidup dalam air. Sedangkan sifat atau kandungan kimia air adalah oksigen, karbondioksida, pH, amoniak, dan alkalinitas yang berada dalam air.

Sumber bacaan:
  • Rema Unisa,"Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) dalam Sistem Resirkulasi dengan Debit Air 33 LPM/M3", IPB, 2000.
  • Fitriah, Husnul,”Pengaruh Penambahan Dosis Karbon Berbeda pada Media Pemeliharaan Terhadap Produksi Benih Lele Dumbo (Clarias sp.)

 

Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Lele


Pertumbuhan ikan, pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi sifat genetik dan kondisi fisiologis ikan, serta faktor eksternal yang berhubungan dengan lingkungan. Faktor-faktor eksternal tersebut diantaranya yaitu, komposisi kimia air dan tanah dasar, temperatur air, bahan buangan metabolik (produk ekskresi), ketersediaan oksigen dan ketersediaan pakan.

Pada kondisi padat penebaran ikan lele yang makin tinggi, maka ketersediaan pakan dan oksigen untuk setiap individu akan semakin berkurang, sedangkan akumulasi bahan buangan metabolik ikan akan makin tinggi. Sebaliknya, jika padat penebaran ikan lele rendah, maka ketersediaan pakan dan oksigen akan semakin banyak, sedangkan akumulasi bahan buangan metabolik ikan akan semakin rendah.

Dilain pihak, peningkatan kepadatan ikan lele tanpa disertai dengan peningkatan jumlah pakan yang diberikan akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan dan jika telah sampai pada batas carrying capasity maka pertumbuhannya akan terhenti sama sekali.

Dan pertanyaan sekarang adalah, bagaimana cara budidaya ikan lele pada padat penebaran tinggi tanpa mengurangi laju pertumbuhan ikan?

Disadur dari: Rema Unisa,"Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) dalam Sistem Resirkulasi dengan Debit Air 33 LPM/M3", IPB, 2000. 
 

Faktor Penting pada Padat Penebaran Lele


Sistem budidaya secara intensif yang dicirikan dengan tingginya padat penebaran ikan bertujuan untuk meningkatkan produksi sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada usaha budidaya, produksi yang akan diperoleh dapat ditentukan dengan cara mengatur padat penebaran ikan hingga tingkat MSC (Maximum Standing Crop), yaitu kondisi bobot biomassa ikan maksimum yang dapat ditebar dalam suatu kolam yang memungkinkan ikan tersebut masih dapat tumbuh.

Padat penebaran tergantung pada tiga faktor, yaitu kualitas dan kuantitas pakan, jenis kolam serta ukuran ikan. Jika ketersedian pakan tercukupi, hasil yang akan diperoleh akan lebih ditentukan oleh kepadatan ikan (jumlah ikan per satuan luas) dari pada laju pertumbuhan individu ikan, karena hasil panen yang tinggi dapat dicapai dengan meningkatkan kepadatan ikan. Peningkatan padat penebaran dapat dilakukan sampai batas atau tingkat tertentu. Batas tersebut berbeda atau bervariasi tergantung pada species ikan yang dibudidaya, yaitu berdasarkan umur ikan dan ukuran masing-masing individu serta metode atau sistem budidaya yang digunakan. 

Namun semakin tinggi tingkat kepadatan ikan dapat menyebabkan semakin banyak masalah yang akan timbul, seperti serangan penyakit, memburuknya kualitas air, terjadinya kompetisi dalam mengambil pakan yang pada akhirnya akan menimbulkan terjadinya kanibalisme. Selain itu, peningkatan kepadatan ikan akan menyebabkan menurunnya berat rata-rata, efisiensi ikan akan menyebabkan menurunnya berat rata-rata, efisiensi pakan serta kelangsungan hidup ikan.

Faktor yang paling penting yang harus diperhatikan dalam budidaya kepadatan tinggi adalah oksigen, amonia, CO2 dan padatan tersuspensi yang keberadaannya secara langsung dipengaruhi oleh proses metabolisme ikan.

Sumber: Rema Unisa,"Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) dalam Sistem Resirkulasi dengan Debit Air 33 LPM/M3", IPB, 2000.
 

My Catfish : Kami Akan Selalu Berusaha Menjadi Lebih Baik


Alhamdulillah, Sungguh merupakan berkah bagi kami, karena ditengah kesibukan kami yang sehari-hari berada dikolam pembenihan lele, telah berhasil menyelesaikan misi dibulan Juni ini dengan lancar. Tidak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri, Kelurahan Desa Canggu, dan KPP Pratama Pare atas segala arahan, bimbingan dan bantuannya agar kami dapat berkembang sebagai bagian dari ekonomi kerakyatan yang mandiri dan profesional serta tidak melupakan kewajibannya sebagai warga negara yang baik dengan turut berperan aktif dalam pembangunan.

Saat ini kami juga sedang merintis agar menjadi unit pembenihan yang menerapkan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) untuk pembenihan ikan lele. Dikemudian hari diharapkan My Catfish Hatchery menjadi unit pembenihan yang bersertifikat CPIB, sehingga dapat menghasilkan produk benih ikan lele yang berkualitas, berdaya saing serta menjamin kesempatan ekspor. Berkenaan dengan hal tersebut, kami sangat mengharapkan bimbingan dan arahan berbagai pihak khususnya dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri. Terima kasih...


 

Jenis Dokumen CPIB: Rekaman

Rekaman sebagai salah satu dokumen yang merupakan bukti objektif dari suatu unit pembenihan untuk menunjukkan efektivitas implementasi CPIB. Rekaman dapat berupa arsip surat menyurat, formulir yang sudah diisi, daftar periksa, hasil uji, dan laporan. Manfaat rekaman adalah untuk memudahkan dalam ketertelusuran penerapan CPIB.

Beberapa catatan/rekaman yang harus dikendalikan, yaitu :
  1. Pengadaan sarana produksi benih;
  2. Manajemen induk;
  3. Manajemen benih;
  4. Manajemen air;
  5. Manajemen pakan hidup;
  6. Manajemen pemberian pakan;
  7. Manajemen penggunaan obat ikan;
  8. Manajemen penggunaan bahan kimia;
  9. Pemeriksaan kualitas air (Cd, Pb , Hg dan parameter kualitas air lainnya);
  10. Pemeriksaan kesehatan induk dan benih;
  11. Manajemen biosecurity;
  12. Sanitasi lingkungan pembenihan;
  13. Manajemen pemanenan benih;
  14. Manajemen pengemasan dan distribusi benih.
Unit pembenihan bebas mengembangkan catatan-catatan/rekaman lain yang mungkin diperlukan untuk menunjukkan kesesuaian dari proses-proses, produk dan persyaratan CPIB.

Sumber: Dirjen Perikanan Budidaya KKP, "Pedoman Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)", Jakarta, 2008

 

Jenis Dokumen CPIB: Formulir

Formulir adalah sarana yang digunakan untuk merekam data penerapan CPIB. Fungsi formulir adalah untuk mengumpulkan dan mengkomunikasikan data dan informasi dalam format tertentu. 

Manfaat penggunaan formulir adalah sebagai berikut :
a. Menjamin semua data yang dibutuhkan dapat ditampilkan;
b. Menjaga konsistensi data yang dihasilkan;
c. Memberikan petunjuk data yang harus dimasukkan.

Dalam pembuatan formulir, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Identitas formulir (nama, nomor, status revisi)
b. Format formulir didesain sesuai dengan kebutuhan informasi
c. Cara pengisian dan ruang isian data :
  • Gunakan keterangan yang jelas dan deskriptif;
  • Tulis instruksi yang jelas dan singkat;
  • Ditulis tangan atau diketik;
  • Sediakan ruang yang cukup untuk menulis informasi.
d. Formulir dapat diperbanyak dengan mutu yang tetap baik;
e. Formulir yang tidak dapat dipakai lagi harus dimusnahkan;
f. Jumlah formulir yang dibuat sesuai dengan jumlah rekaman yangdibutuhkan.

Sumber: Dirjen Perikanan Budidaya KKP, "Pedoman Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)", Jakarta, 2008



 

Jenis Dokumen CPIB: Standar Prosedur Operasional

Standar Prosedur Operasional dalam CPIB adalah dokumen yang memberikan petunjuk baku tentang pengoperasian suatu proses kerja yang dilakukan oleh satu atau beberapa orang dalam satu unit pembenihan yang fungsi tugasnya dapat mempengaruhi kegiatan efektivitas produksi. Tujuan pembuatan prosedur adalah untuk memastikan proses berjalan secara terkendali dan sistem pengendalian dijalankan secara konsisten. Dengan adanya SPO, siapapun yang melaksanakan proses produksi akan memperoleh hasil yang sama.

Standar Prosedur Operasional yang dimiliki dan diterapkan di unit pembenihan ikan antara lain terdiri atas:
  1. Manajemen induk;
  2. Manajemen benih;
  3. Manajemen air;
  4. Manajemen pakan hidup;
  5. Manajemen pemberian pakan;
  6. Manajemen penggunaan obat ikan;
  7. Manajemen penggunaan bahan kimia;
  8. Pemeriksaan kualitas air (logam berat dan parameter kualitas air lainnya);
  9. Pemeriksaan kesehatan induk dan benih;
  10. Manajemen biosecurity;
  11. Sanitasi lingkungan pembenihan;
  12. Manajemen pemanenan benih;
  13. Manajemen pengemasan dan distribusi benih.
Sumber: Dirjen Perikanan Budidaya KKP, "Pedoman Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)", Jakarta, 2008
 

Pengertian, Fungsi dan Manfaat Dokumentasi Dalam CPIB

Dokumentasi merupakan dasar penerapan CPIB untuk menjamin konsistensi mutu benih yang dihasilkan. Dokumentasi adalah proses pengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan informasi yang berhubungan dengan CPIB. Jumlah dokumentasi yang dibutuhkan bersifat fleksibel artinya sesuai dengan besar kecilnya unit pembenihan dan tingkat kerumitan proses serta kompetensi sumberdaya.

Fungsi dokumentasi adalah sebagai acuan dalam penerapan dan pengembangan CPIB, menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap konsistensi mutu benih yang dihasilkan dan keamanan penggunaan bahan dalam proses produksi.

Manfaat utama dari dokumentasi adalah :
  1. Kemudahan dalam mengakses informasi tentang proses produksi dan mutu benih yang dihasilkan;
  2. Dapat diperoleh bukti objektif kesesuaian pelaksanaan proses produksi benih terhadap persyaratan-persyaratan CPIB;
  3. Kemudahan dalam melakukan ketertelusuran (traceability).
Persyaratan dokumentasi yang baik dalam CPIB adalah sebagai berikut :
  1. Sederhana, ringkas, jelas dan langsung mengenai sasaran;
  2. Sesuai dengan tingkat keahlian dan pengalaman dari pengguna;
  3. Data dan informasi mudah diakses;
  4. Memungkinkan orang lain untuk meneruskan pekerjaan yang belum selesai;
  5. Menerangkan persyaratan yang harus dipenuhi;
  6. Membantu melatih orang yang belum berpengalaman.
Sumber: Dirjen Perikanan Budidaya KKP, "Pedoman Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)", Jakarta, 2008
 

CAPRIVAC AERO-L® : Vaksin Aeromonas Hydrophilla

Pada tahun 1980-an terjadi wabah penyakit bakterial pada ikan air tawar yang menyerang beberapa jenis ikan (lele, mas, gurame, betutu, dan gabus) dari berbagai ukuran. Wabah tersebut bermula dari daerah Jawa Barat dan akhirnya meluas ke seluruh wilayah Indonesia dengan tingkat kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah pada saat itu. Hasil studi epidemiologi disimpulkan bahwa patogen yang dianggap paling bertanggung jawab atas kasus tersebut adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Sejak saat itu, penelitian dan kajian tentang biologi, karakterisasi, serta mekanisme serangan penyakit tersebut dilakukan secara intensif untuk mendapatkan teknologi penanggulangannya yang paling rasional, murah, aman, efisien dan efektif. Hingga pada akhirnya ditemukan vaksin monovalen anti-Aeromonas hydrophila yang mampu bekerja untuk pencegahan infeksi jenis bakteri tersebut.

Seluruh koleksi isolat bakteri A. hydrophila yang ada di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR) yang diperoleh dari beberapa wilayah pengembangan perikanan budidaya air tawar di Indonesia, diseleksi (screening) dan diuji secara laboratoris untuk tujuan pembuatan vaksin. Pengujian dilakukan terhadap seluruh koleksi isolat bakteri yang meliputi aspek: (1). Karakterisasi melalui uji bio-kimia (bio-chemical tests), (2). Patogenisitas terhadap beberapa spesies ikan yang dijadikan model, yaitu ikan mas, lele dan gurame; (3). Potensi imunogenisitas, serta (4). Potensi reaksi silang (cross-reactivity) antara satu isolat terhadap isolat-isolat lainnya.
Dari ke-32 isolat bakteri Aeromonas spp. yang merupakan koleksi Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR), berdasarkan hasil karakterisasi melalui uji bio-kimia diketahui bahwa isolat AHL0905-2 lebih potensial sebagai kandidat vaksin dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut menjadi vaksin. Inilah cikal bakal diciptakannya vaksin Hydrovac yang setelah dikerjasamakan dengan Capri berubah nama menjadi CAPRIVAC AERO-L®.

Kerjasama alih teknologi yang dilakukan Capri dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan KKP-RI ini juga dimaksudkan untuk menyebarluaskan dan menerapkan hasil penelitian Perikanan Budidaya melalui produk vaksin. Dengan demikian manfaat penelitian vaksin ikan dapat sampai kepada pembudidaya kecil sehingga mampu mengatasi problem penyakit ikan yang selama ini menghantui kegagalan budidaya. PT Caprifarmindo Labs. turut serta membangun perikanan Indonesia dari sisi menjaga kesehatannya. Ikan sehat, produksi perikanan budidaya pun meningkat.

CAPRIVAC AERO-L® merupakan vaksin inaktif yang mengandung strain bakteri Aeromonas hydrohyla AHL0905-2 isolat lokal yang mempunyai kemampuan melindungi ikan terhadap serangan penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS). CAPRIVAC AERO-L® diformulasi dalam bentuk solution sehingga mudah dalam aplikasi, baik secara injeksi maupun rendam. CAPRIVAC AERO-L® merupakan solusi tepat untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

Sumber:
http://kkp.go.id/
 

Manajemen Personil Dalam CPIB

Sumberdaya manusia merupakan elemen organisasi yang sangat penting karena menjadi pilar penyangga utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam usaha mewujudkan visi, misi dan tujuannya. Untuk itu suatu unit usaha pembenihan harus menetapkan personil dengan kompetensi/kualifikasi atas dasar pendidikan, pelatihan, ketrampilan/pengaturan teknik dan pengalaman yang diperlukan dalam melaksanakan fungsi unit pembenihan tersebut yang antara lain terdiri atas: (1) Pimpinan Unit /Ketua Kelompok (2) Pengendali mutu produksi, (3) Pelaksana produksi, dan (4) Pelaksana administrasi.

Pimpinan unit/ketua kelompok
Pimpinan unit pembenihan skala besar atau ketua kelompok pembenihan skala kecil adalah orang yang bertanggung jawab terhadap seluruh proses pengelolaan unit pembenihan.

Pengendali mutu produksi
Untuk menangani, mengendalikan dan mengkoordinasikan mutu produksi dalam menerapkan CPIB pada suatu unit pembenihan skala besar atau kelompok unit pembenihan skala kecil, diperlukan seorang Manajer Pengendali Mutu (MPM) yang bersertifikat yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Dalam melaksanakan tugasnya MPM tidak boleh merangkap sebagai manajer produksi. Tugas MPM adalah sebagai berikut :
  1. Bertanggung jawab pada perencanaan dan harus memastikan bahwa unitpembenihan memenuhi persyaratan CPIB;
  2. Bertanggung jawab memberikan pemahaman dan memastikan semua personil unit pembenihan dapat melaksanakan CPIB;
  3. Bertanggung jawab dalam melaksanakan CPIB secara konsisten;
Pelaksana produksi
Pelaksana Produksi yaitu personil yang menangani proses produksi di unit pembenihan skala besar atau kelompok pembenihan skala kecil, yang sebaiknya terdiri atas:
  1. Personil yang menangani manajemen induk;
  2. Personil yang menangani manajemen benih;
  3. Personil yang menangani analisa kualitas air;
  4. Personil yang menangani produksi pakan hidup;
  5. Personil yang menangani manajemen kesehatan ikan;
  6. Personil yang menangani mekanik (permesinan, perlistrikan dan perbengkelan).
Pelaksana administrasi
Pelaksana administrasi merupakan personil yang bertugas sebagai berikut :
  1. Pembelian bahan;
  2. Keuangan dan pembukuan; dan
  3. Persuratan dan kearsipan.
Pelaksana pemasaran
Pelaksana pemasaran merupakan personil yang bertanggung jawab dalam mempromosikan dan memasarkan hasil produksi benih.

Sumber: Dirjen Perikanan Budidaya KKP, "Pedoman Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)", Jakarta, 2008
 

Melalui Kampoeng BNI, KKP Genjot UMKM Perikanan

Sudah bukan rahasia lagi, meskipun 57 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional berasal dari UMKM, UMKM masih dihadapkan dengan keterbatasan akses kepada perbankan terkait permodalan, khususnya UMKM di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), mencatat bahwa sampai bulan Februari 2012, penyaluran kredit UMKM di sektor kelautan dan perikanan baru mencapai 2,6 triliun rupiah atau 0,7 persen dari total alokasi kredit bagi UMKM sebesar 471 triliun rupiah. Berdasarkan hal tersebut, melalui pendirian kampoeng BNI maka diharapkan kendala yang menyangkut UMKM dalam mengakses permodalan dapat diatasi dengan dukungan dari pihak perbankan.

Pendirian Kampoeng BNI di kawasan Muara Angke Jakarta Utara dan Kampoeng BNI Bandeng Karawang merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) di bidang percepatan penyaluran kredit investasi serta untuk memperkuat modal kerja bagi UMKM pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Keberadaan UMKM pengolahan dan pemasaran hasil perikanan perlu diberdayakan sehingga akan tumbuh dan berkembang menjadi pelaku usaha yang mandiri dan tangguh. Sementara itu, KKP terus berupaya dalam merumuskan berbagai program prioritas yang bersifat komprehensif dan sinergis seperti program Industrialisasi Perikanan, Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) dan Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN) dalam melaksanakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. 

Menurut Syarif C. Sutardjo, Kampoeng BNI merupakan program untuk memberdayakan dan mengembangkan ekonomi masyarakat dalam suatu kluster, yang memiliki produk unggulan daerah setempat. Kampoeng BNI menerapkan model kemitraan terpadu, di kawasan dengan satu atau lebih usaha produktif yang melibatkan masyarakat di kawasan itu. Disamping itu, masyarakat akan mendapatkan dukungan berupa pembiayaan dan permodalan dari pihak BNI dan model yang diadopsi mengambil konsep one village one product, yakni komunitas perikanan terintegrasi dalam satu areal.

Kampoeng BNI yang telah berdiri di Muara Angke akan digarap untuk usaha perikanan, meliputi ikan asin, pindang, dan usaha skala ekspor. Selain mendapat pinjaman dengan syarat dan bunga lunak, masyarakat juga mendapat pelatihan, pendampingan, pemasaran serta bantuan infrastruktur yang dibutuhkan untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan, termasuk memberikan bantuan sarana dan prasarana usaha dan pengembangan lingkungan. Disamping itu, BNI juga memberikan bantuan sarana dan prasarana usaha dan pengembangan lingkungan. “Sinergi antara korporasi dan pemerintah dapat mendorong percepatan peningkatan kualitas kehidupan nelayan,” kata Sharif.

KKP secara terus menerus berupaya mengembangkan sektor UMKM melalui berbagai kebijakan strategis dalam rangka pencapaian visi pemerintah yang sejalan dengan pelaksanaan triple track strategy yakni program pro-poor (pengentasan kemiskinan), pro-growth (pertumbuhan), pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-environtment (melestarikan lingkungan).

Sumber: 
Pusat Data Statistik dan Informasi
http://kkp.go.id/
 

Sarana Biosecurity dalam CPIB

Biosecurity adalah upaya pengamanan sistem budidaya dari kontaminasi organisme pathogen dari luar dan mencegah berkembangnya organisme pathogen ke lingkungan. Kelayakan sarana biosecurity merupakan keharusan dalam penerapan CPIB di unit pembenihan ikan, khususnya guna mendukung proses produksi benih bermutu di unit pembenihan tersebut. Sarana yang diperlukan untuk penerapan biosecurity tersebut antara lain :

  1. Pagar. Pagar pada unit pembenihan bertujuan untuk secara fisik membatasi keluar dan masuknya manusia, hewan dan kendaraan yang dapat membawa organisme pathogen ke dalam lingkungan unit pembenihan. Pagar dapat terbuat dari material seperti besi, tembok, bambu atau material lainnya yang kokoh dan rapat.
  2. Sekat antar unit produksi. Untuk menghindari kontaminasi maka antar unit produksi harus terpisah secara fisik, baik melalui penyekatan maupun ruangan/bangunan tersendiri. Sekat antar ruang dapat terbuat dari tembok, papan, triplek atau anyaman bambu yang dilapisi plastik.
  3. Sarana sterilisasi kendaraan di pintu masuk unit pembenihan. Pada pintu masuk utama unit pembenihan, harus disediakan sarana sterilisasi bagi roda kendaraan yang akan masuk ke dalam lingkungan unit pembenihan. Sarana celup roda umumnya terbuat dari semen/beton dengan ukuran luas dan kedalaman disesuaikan dengan lebarnya jalan serta kendaraan. Sarana celup dibuat di bagian dalam atau di belakang pagar pintu gerbang lingkungan unit pembenihan. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan Kalium Permanganat (KMnO4), Timsen® atau Khloramin T (Halamid)®.
  4. Sarana sterilisasi alas kaki (foot bath). Sarana sterilisasi alas kaki (foot bath) merupakan tempat untuk sterilisasi alas kaki personil yang akan masuk ke dalam ruang produksi. Sarana sterilisasi alas kaki dapat terbuat dari bak semen maupun bahan lain dengan ukuran sesuai ukuran pintu masuk. Sarana sterilisasi berada di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan klorin, Kalium Permanganat (KMnO4), Timsen® atau Khloramin T (Halamid)®. Penggunaan bahan sterilisasi disesuaikan dengan spesifikasi bahan.
  5. Sarana sterilisasi tangan. Sarana sterilisasi tangan merupakan tempat untuk sterilisasi tangan personil yang akan masuk ruang produksi. Sarana sterilisasi tangan dapat berupa wastafel atau alat penyemprot yang ditempatkan di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang umum dipakai adalah cairan alkohol 70 % atau sabun antiseptik.
  6. Pakaian dan perlengkapan kerja personil unit produksi. Pakaian dan perlengkapan kerja personil unit produksi merupakan pakaian dan perlengkapan yang khusus digunakan oleh personil di ruang produksi. Pakaian dan perlengkapan kerja ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai jumlah personil. Pakaian dan perlengkapan kerja harus terbuat dari bahan yang tidak membahayakan pemakainya dan harus selalu bersih.

Sumber: Dirjen Perikanan Budidaya KKP, "Pedoman Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)", Jakarta, 2008

 

NPWP: Syarat Mendapat Modal Usaha Budidaya Lele

Salah satu kelemahan usaha kecil dan menengah termasuk usaha budidaya ikan lele baik pembenihan dan pembesaran adalah keterbatasan dalam mengakses sumber modal dari perbankan. Padahal justru sektor inilah yang menjadi tumpuan penggerak ekonomi bangsa disamping sektor formal lainnya. Sektor informal menyumbang hampir sekitar 57 persen dari Pendapatan Nasional Bruto (PDB), dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional serta umumnya lebih tahan terhadap dahsyatnya pengaruh buruk ekonomi global. Tetapi hal ini bisa jadi hanya tinggal sejarah karena perbankan saat ini  khususnya bank-bank yang menerapkan prinsip syariah sudah mulai menggarap sektor potensial terbesar di Indonesia ini. Salah satunya adalah budidaya perikanan.

Pihak perbankan dengan berbagai jenis pembiayaannya berusaha memenuhi kebutuhan para pembudidaya ikan lele dengan menyediakan modal investasi dan modal kerja. Modal investasi biasanya lebih dari 1 tahun dan modal kerja dalam jangka waktu kurang dari atau sama dengan 1 tahun. Sebagai persyaratan memperoleh modal ini salah satunya adalah mempunyai/melampirkan NPWP, meskipun persyaratan tiap bank berbeda-beda tetapi syarat ini biasanya menjadi syarat pokok dalam mengajukan pinjaman modal.

NPWP atau singkatan dari Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana yang merupakan pengenal atau identitas bagi setiap Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya di bidang perpajakan. Untuk memperoleh NPWP, Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada Kantor Pelayanan Pajak, dengan mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan persyaratan administrasi yang diperlukan. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi (pembudidaya lele skala rumah tangga) yang diperlukan hanya berupa KTP yang masih berlaku. Perlu diketahui masyarakat bahwa untuk pengurusan NPWP tersebut tidak dipungut biaya apapun. Dengan memiliki NPWP Wajip Pajak akan banyak memperoleh manfaat salah satunya adalah memperoleh pinjaman modal.

Sumber: www.pajak.go.id




 

Manajemen Produksi Benih Ikan Lele

Manajemen adalah pendayagunaan segala sumber daya yang ada (dimiliki atau outsourching), berupa modal (money), tenaga kerja atau manusia (man), sarana dan prasarana (machine), terknologi atau metode (method), bahan (material) dan pasar (market) yang dapat diberdayakan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Produksi benih ikan adalah seperangkat prosedur dan kegiatan yang terjadi untuk menghasilkan benih ikan, mulai dari: 1) analisa pasar; 2) persiawan wadah, peralatan dan  media pembenihan; 3) pemeliharaan induk; 4) pemijahan; 5) penetapan telur dan pemeliharaan larva; 6) pemeliharaan benih; dan 7) pemanenan benih, sampai akhirnya dipasarkan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka manajemen produksi benih ikan dapat diartikan sebagai upaya mendayagunakan segala sumber daya yang ada untuk menghasilkan benih ikan yang sesuai dengan permintaan pasar secara efektif dan efisien.

Fungsi manajemen paling tidak meliputi 4 (empat) hal, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Sehingga manajemen produksi benih ikan dapat diartikan sebagai seperangkat keputusan untuk mendukung produksi benih ikan, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka kegiatan produksi apapun termasuk produksi benih ikan sangat memerlukan kegiatan manajemen agar dapat mengarahkan usaha yang dilakukan memperoleh hasil yang diinginkan. Selain itu usaha dibidang produksi benih ikan sifatnya cukup komplek sehingga memerlukan pemikiran yang cermat. Kecermatan mengelola usaha produksi benih ikan perlu dilakukan, mulai dari: 1) manajemen pemasaran benih, 2) manajemen persiapan wadah, peralatan, dan media pembenihan, 3) manajemen pemeliharaan induk, 4) manajemen pemijahan, 5) manajemen penetasan telur dan pemeliharaan larva, dan 6) manajemen pemanenan benih.

Sumber: Karyawan Perangin Angin, Intan Rahima Sary, Maman Sudrajat dan Dardiani,"Mata Diklat Manajemen Produksi", Kementerian Pendidikan Nasional, 2011.
 

Lingkungan Ideal Bagi Ikan Lele

Air merupakan media tempat hidup dalam budi daya ikan. Kondisi air harus disesuaikan dengan kebutuhan optimal bagi pertumbuhan ikan yang dipelihara. Keberhasilan budi daya perairan banyak ditentukan oleh keadaan kuantitas dan kualitas air. Kuantitas air merupakan jumlah air yang tersedia yang berasal dari sumber air, seperti sungai, saluran irigasi, dan sumur bor untuk mengairi kolam budidaya. Sementara itu, kualitas air berupa sifat fisika, kimia dan biologi air. Sifat fisika meliputi suhu, kecerahan air, kekeruhan, dan warna air. Sifat kimia air meliputi derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (O2), karbo dioksida (CO2), amonia, dan alkalinitas, sedangkan sifat biologi air meliputi plankton, benthos, dan tanaman air. Variabel-variabel dalam kualitas air tersebeut akan mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup, dan perkembangabiakan ikan.

Ikan lele tidak terlalu membutuhkan debit air yang besar, seperti ikan mas atau tawes. Hal ini disebabkan lele mempunyai alat pernapasan tambahan (labirin) sehingga dapat mengambil oksigen bebas dari udara. Sumber air untuk usaha pembenihan harus bersih dan jernih. Biasanya air tersebut berasal dari air sumur baik dari sumur bor dengan menggunakan  pompa isap maupun sumur galian biasa. Air yang tidak memenuhi syarat dari segi kualitas air akan berakibat buruk terhadap kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Adapun kualitas air yang dianggap baik untuk kehidupan lele dapat dilihat dibawah ini.


Parameter
Kandungan air yang dianjurkan
Suhu
25-30 derajat Celcius
pH
6,5-8,5
Oksigen terlarut (O2)
> 3 mg/l
Amonia total
Maksimum 1 (mg/l total amonia)
Kekeruhan
Maksimum 50 NTU
Karbon dioksida (CO2)
Maksimum 11 (mg/l)
Nitrit
Minimum 0,1 (mg/l)
Alkalinitas
Minimum 20 (mg/l CaCO3)
Kesadahan total
Minimum 20 (mg/l CaCO3)

Sumber: Rifianto, 2000

Pertumbuhan ikan lele akan bagus jika dipelihara pada suhu air dan lingkungan yang hangat. Oleh karena itu, ketinggian lokasi budi daya disarankan tidak boleh lebih dari 600 m dpl. Air dengan kandungan oksigen yang rendah sekalipun dapat digunakan dalam budidaya lele karena lele mempunyai alat bantu pernapasan berupa labirin yang memungkinkan lele mengambil oksigen langsung di udara. Selain itu lele tidak memerlukan kualitas air yang jernih atau air mengalir, seperti ikan-ikan lainnya. Pada budidaya lele di kolam air tergenang, lele masih dapat hidup dan berkembang selama air kolam tidak terpolusi oleh unsur polutan seperti amonia. Perubahan suhu yang terlalu ekstrim akan menyebabkan ikan stress yang akhirnya akan menyebabkan kematian ikan.

Sumber: 
Mahyuddin, Kholish,”Panduan Lengkap Agribisnis Lele”, Jakarta: Penebar Swadaya, 2011. 



 

Langkah Pencegahan Agar Lele Bebas Hama & Penyakit

  1. Penuhi pakan sesuai dengan kualitas dan kkuantitas yang diperlukan
  2. Perbaiki konstruksi kolam
  3. Perbaiki kualitas air dan penggantian air secara berkala
  4. Buang kotoran dan sisa pakan di dasar kolam
  5. Tebar benih unggul atau induk unggul yang tahan terhadap serangan penyakit
  6. Hindari kepadatan penebaran yang terlalu berlebihan
  7. Jagalah kebersihan dan sanitasi kolam
  8. Lakukan aklimatisasi benih sebelum ditebar di kolam
  9. Rendam benih atau ikan yang akan ditebar ke kolam dengan antibiotik
  10. Lakukan pengeringan dan pengapuran kolam sebelum ditebari ikan
  11. Taburkan garam dapur sebanyak 150-200 g/meter kubik yang telah dilarutkan dalam air, kemudian percik-percikkan larutan pada kolam setiap sepuluh hari sekali.
Sumber: 
Mahyuddin, Kholish,”Panduan Lengkap Agribisnis Lele”, Jakarta: Penebar Swadaya, 2011. 

 

Perkembangbiakan Ikan Lele

Ikan Lele di alam memijah pada awal atau sepanjang musim penghujan. Rangsangan memijahnya di alam berhubungan erat dengan bertambahnya volume air yang biasanya terjadi pada musim penghujan dari meningkatnya kualitas air serta ketersediaan jasad renik (pakan alami). Lele terangsang untuk memijah setelah turun hujan lebat dan munculnya bau tanah yang cukup menyengat (bau ampo) akibat tanah kering kena air hujan. Pada musim penghujan terjadi peningkatan kedalaman air yang dapat merangsang ikan lele memijah. Ikan lele lebih suka memijah di tempat terlindung dan teduh. Lele berkembang biak secara ovipar (eksternal), yaitu pembuahan terjadi di luar tubuh.

Pada pembenihan lele lokal di kolam budidaya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara berpasangan dan massal. Pada pembenihan secara massal, induk jantan akan mencari sendiri induk betina, demikian juga sebaliknya. Jika telah menemukan pasangannya, lele lokal biasanya akan setia terhadap pasangannya dalam melakukan pemijahan. Sementara itu, pembenihan lele lokal secara berpasangan dalam satu kolam hanya berisi satu induk jantan dan satu induk betina yang siap memijah. Induk lele yang telah memijah, pada pagi harinya akan terlihat telur-telur yang menempel di ijuk. Kedua induk lele secara bergantian akan menjaga telur hingga menetas dan menjaganya selama kurang lebih dua minggu.

Lele yang dibudidayakan di kolam dapat dikawinkan sepanjang tahun asalknan dikelola dengan baik. Kini, pemijahan lele sudah dapat dilakukan secara alami (tradisional). Perangsangan untuk memijah tidak dilakukan dengan hormon, tetapi hanya dengan mengeringkan kolam, menjemur dasar kolam, lalu mengairinya. Dasar kolam yang telah dijemur dan diairi menimbulkan bau ampo. Bau itulah yang merangsang induk ikan untuk memijah. Pemijahan lele biasanya dilakukan pada sore atau malam hari secara berpasang-pasangan. Media tempat melekatnya telur atau kakaban dari bahan ijuk dirangkai sedemikian rupa. Pada pagi harinya, kakaban tersebut dipenuhi telur. Selanjutnya, kakaban dipindahkan ke wadah penetasan baru untuk ditetaskan sampai berukuran benih.

Waktu yang diperlukan untuk menetas sekitar 24 - 48 jam. Larva yang berumur 1-4 hari masih memperoleh pakan dari kuning telur yang masih melekat di bagian perutnya. Setelah  kuning telur habis, pakan larva selanjutnya adalah cacing sutra tau Tubifex sp.

Sumber: 
Mahyuddin, Kholish,”Panduan Lengkap Agribisnis Lele”, Jakarta: Penebar Swadaya, 2011. 


 

Harga Benih Lele Sangkuriang Juni 2012


No
Ukuran
Harga pembelian
kurang dari 10.000 ekor
Harga pembelian
lebih dari 10.000 ekor
1.     
5-6 cm
Rp 130 /ekor
Rp 120 /ekor


NB: Harga dapat berubah sewaktu-waktu.