Nourishing People

Iptek "Kunci" Pengembangan Blue Economy

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah giat mengkaji dan menyempurnakan paradigma blue economy sebagai sebuah strategi pembangunan nasional berkelanjutan. Seiring dengan itu, KKP mendorong kalangan perguruan tinggi untuk bermitra dengan pemerintah dan swasta dalam mengembangkan inovasi, riset dan teknologi guna menguak peluang dan potensi di dalam kegiatan ekonomi berkelanjutan yang bertumpu pada sektor kelautan dan perikanan. Sebabnya, penerapan konsep blue economy membutuhkan dukungan pengetahuan dan teknologi (cutting-edge innovations) yang tidak hanya mampu memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, tetapi lebih nyata dalam menerapkan inovasi terkait sistem produksi bersih tanpa limbah. Demikian dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo di Universitas Lampung, Provinsi Lampung, Senin(7/1).

Sharif mengatakan, pusat-pusat pendidikan ilmu pengetahuan sebagai sumber inovasi dan inspirasi (center of excellence) berperan sangat penting dalam memperluas dan memperdalam riset dalam mengembangkan paradigma blue economy. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang penting bagi kemajuan bangsa, sehingga pengembangan dan pengkayaan ilmu pengetahuan perlu mengadopsi cara pandang baru yakni, education for sustainable development within blue economy. Sektor pendidikan sangat sentral tidak hanya dalam konteks membangun sumber daya manusia berkualitas, tetapi sekaligus ikut serta di dalam pembangunan inclusive development.

Konsep blue economy dikembangkan untuk mendorong peningkatan peran swasta dalam pembangunan ekonomi pro lingkungan yang dilaksanakan melalui pengembangan bisnis dan investasi inovatif dan kreatif, dengan tujuan menghasilkan peningkatan pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja yang semakin luas dan pendapatan masyarakat meningkat, namun langit dan laut tetap biru. Sehubungan dengan itu, kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan akan diarahkan untuk mendorong para pelaku bisnis dan investor dapat mengembangkan usahanya dengan prinsip-prinsip efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dengan menghasilkan lebih banyak produk turunan dan produk lain terkait, sehingga menghasilkan pendapatan (revenue) lebih besar.

Terdapat beberapa contoh penerapan konsep blue economy yang telah berhasil di sejumlah negara, a.l., berkembangnya usaha inovatif dan kreatif di bidang penangkapan ikan oleh masyarakat lokal yang mampu melipat-gandakan pendapatan nelayan hingga lima kali lipat. Sedangkan untuk teknologi yang dikembangkan, merupakan hasil adopsi teknik yang digunakan paus dan lumba-lumba dalam “menjaring” mangsa secara efektif dengan gelembung udara (bubble). Selain itu, dikembangkan pula teknologi kapal nelayan yang bebas bahan bakar fossil, sumber energi di dapat dari penggunaan layar yang sekaligus berfungsi sebagai double-sided solar panel dan arus laut. Di sisi lain, terintegrasinya kegiatan usaha antara budidaya udang, benih udang, mangrove, makanan ternak, usaha peternakan, kotoran ternak, lalat, saliva, farmasi, dan rumput laut. Masing-masing dari produk tersebut mampu meningkatkan revenue secara signifikan sekaligus membuka kesempatan kerja masyarakat lokal.

Selain itu, pengembangan usaha dan investasi komoditas hasil laut dengan konsep blue economy yang dapat dijadikan basis pengembangan usaha dan investasi diantaranya, ikan segar yang dapat menghasilkan berbagai produk dari ikan kaleng, beku, tepung ikan, minyak ikan, makanan ternak, kulit samak, gelatin, dan kerajinan. Dari produk tersebut dapat dihasilkan produk turunan paling tidak 6 jenis. Sedangkan untuk komoditas udang dapat menghasilkan beberapa produk, seperti daging udang dan limbah udang sebagai bahan baku. Limbah udang diproses menjadi khitin dan khitosan, sedangkan khitin menghasilkan berbagai produk seperti: bahan untuk fotografi, kertas, farmasi, kosmetik, pengolahan dan pengawetan kayu. Tak ketinggalan, komoditi rumput laut pun mampu menghasilkan agar-agar, karaginan, dan alginate. Dari ketiga produk tersebut dapat dihasilkan paling tidak 16 produk baru.

Adapun prinsip-prinsip pembangunan sektor kelautan dan perikanan dengan mengadopsi cara pandang blue economy menekankan kepada lima point penting. Kelima point penting tersebut yakni, pertama, terintegrasinya antara pusat-pusat ekonomi dengan lingkungan. Kedua, pengembangan kawasan ekonomi potensial dan lintas batas ekosistem berbasis kawasan. Ketiga, tercapainya sistem produksi efisien tanpa limbah dan tidak merusak lingkungan. Keempat, tumbuhnya penanaman modal dan bisnis kreatif dan inovatif yang mengadopsi model blue economy. Terakhir, terciptanya keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi, sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.

Laporan Food Agricultural Organization (FAO) 2012, menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir produksi ikan dunia dari kegiatan penangkapan di laut maupun diperairan umum cenderung stagnan, yaitu dari 90,0 juta ton pada tahun 2006 menjadi 90,4 juta ton pada tahun 2011. Sementara disisi lain, produksi ikan dari kegiatan budidaya mengalami peningkatan cukup pesat dari 47,3 juta ton menjadi 63,6 juta ton pada periode yang sama. Produksi perikanan pada tahun 2011 tersebut, sekitar 84,94 persen dikonsumsi sebagai pangan dan sisanya untuk non-pangan. Dengan demikian, peran produk perikanan sebagai pangan sumber protein hewani menjadi sangat penting, mengingat sampai saat ini rata-rata konsumsi ikan penduduk dunia per kapita baru mencapai angka 18,80 kg/tahun.

Sementara di sisi lain, potensi lestari sumberdaya perikanan tangkap laut Indonesia sekitar 6,5 juta ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,03 juta ton pada tahun 2011 (77,38 persen). Dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut tersebut, di beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) tertentu seperti Laut Jawa, telah terjadi lebih tangkap (over fishing). Sementara di perairan lainnya seperti Laut Cina Selatan, Arafura dan lain sebagainya, potensi ikannya belum dimanfaatkan secara optimal. Disamping itu, potensi perikanan budidaya payau (tambak) mencapai 2,96 juta hektar dan baru dimanfaatkan seluas 682.857 hektar (23,04%) serta potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektar dengan tingkat pemanfaatan yang relatif masih rendah, yaitu sekitar 117.649 hektar atau 0,94 persen. Potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar, apabila kita memasukan potensi budidaya air tawar seperti kolam (541.100 ha), budidaya diperairan umum (158.125 ha) dan mina-padi (1,54 juta ha). Pemanfaatan potensi areal budidaya perikanan tersebut menghasilkan produksi ikan sebesar 6,28 juta ton pada tahun 2011. Apabila potensi lahan budidaya perikanan ini dapat dimanfaatkan secara optimal, maka peran produksi perikanan dalam pembangunan nasional untuk mensejahterakan masyarakat, akan menjadi semakin besar.

Sumber: www.kkp.go.id
 

0 comments:

Poskan Komentar