Nourishing People

Sistem Logistik Ikan Nasional Mulai Digarap

Program Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) yang dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun lalu, kini sudah memasuki tahap implementasi program. Bahkan saat ini proses pelaksanaan program SLIN tahap pertama sudah memasuki tahap pematangan teknis yang selanjutnya akan diikuti proses tender proyek. Demikian dikatakan Saut P Hutagalung, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Dirjen P2HP KKP).

Saut menjelaskan, progres tersebut merupakan implementasi program SLIN yang dijalankan KKP pada tahap pertama. Selanjutnya program SLIN ini akan dijadikan proyek percontohan bagi pengembangan tahap-tahap berikutnya di daerah lain. Untuk menyukseskan program SLIN tahap pertama ini, KKP telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 60 miliar. Sedangkan sebagai proyek percontohan program SLIN tahap pertama ini, KKP akan memulai membangun koridor sistem logistik ikan dari wilayah Sulawesi dan Maluku menuju Jawa Timur dan Jakarta. “Realisasi program tersebut antara lain untuk Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kendari akan dibangun cold storage berkapasitas 500 ton dan Maluku dibangun juga kapasitas 100 ton. Sedangkan di PPN Brondong Jawa Timur akan dibangun cold storage kapasitas 1.500 ton dan Jakarta dibangun dengan kapasitas hingga 2.000 ton,” jelasnya.

Menurut Saut, pemilihan PPN Kendari dan PPN Brondong sebagai uji coba pertama, mengingat kedua wilayah ini dinilai mampu mewakili sektor hulu dan hilir komoditas perikanan di kawasan Timur Indonesia. Apalagi, kawasan Sulawesi merupakan sentra komoditas hasil perikanan di Indonesia Timur, sementara Brondong merupakan hub untuk memudahkan transportasi ke sentra-sentra pengolahan dan pemasaran perikanan. Adapun komoditas perikanan yang akan ditangani dalam program SLIN tahap pertama ini, yakni ikan layang, kembung, dan makarel yang akan disuplai dari kawasan Kendari dan Banggai (Sulteng), serta ikan tuna, tongkol, dan cakalang (TTC) dari Ambon (Maluku). Sementara sebagai operator, nantinya akan ditunjuk Badan Layanan Umum (BLU). “Kami berharap program SLIN tahap pertama ini bisa beroperasi November 2013 mendatang,” tambahnya.

Saut menjelaskan, mengingat kurangnya pasokan energi listrik dari perusahan PLN di kawasan Indonesia Timur, kemungkinan cold storage yang akan dibangun menggunakan energi surya (solar cell). Selain listrik, tingginya biaya angkutan juga menjadi faktor penghambat. Dimana, lemahnya daya saing komoditas pangan khususnya produk perikanan Indonesia selama ini salah satunya karena tingginya biaya angkutan produk itu dari sentra produksi ke pasar maupun industri pengolahan. Sebagai contoh, biaya angkutan komoditas ikan dari Ambon ke Surabaya rata-rata mencapai Rp 1.800 per kilogram. Anehnya, biaya angkut komoditas ikan dari China ke Surabaya rata-rata hanya Rp 700 per kg. “Kondisi ini yang bisa membuat para industri pengolahan lebih memilih ikan impor,” ujarnya.

Saut menandaskan, program SLIN digulirkan sebagai salah satu upaya untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Pasalnya, selama ini permasalahan distribusi ikan dari sentra produksi yang terletak di wilayah timur ke sentra-sentra pasar di wilayah barat belum optimal dan kurang terpadu. Sedangkan di sisi lain kontuinitas pasokan sangat diperlukan sebagai kebutuhan konsumsi dan industri pengolahan perikanan. Untuk itu, SLIN dapat memberikan jaminan terhadap ketersediaan, stabilitas harga, ketahanan pangan serta mendo­rong pertumbuhan industri peng­olahan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Program SLIN secara bertahap akan bisa menekan biaya angkut. Selain itu, SLIN dilakukan guna menjaga kestabilan harga serta pasokan komoditas perikanan, mengingat selama ini terjadi fluktuasi harga yang signifikan saat musim panen serta paceklik. “Diharapkan dengan dijalankan program SLIN, nantinya juga akan membawa multiplier effect bagi nelayan. Dimana selama ini kurang mendapat jaminan pasar dan daya tahan ikan tangkap akibat tidak adanya cold storage di pelabuhan,” tambahnya.

Sumber: www.kkp.go.id
 

0 comments:

Poskan Komentar